Penanganan Kasus Insiden Protap di DPRDSU Harus Adil


Doloksanggul (SIB)
Ketua LADN (Lembaga Adat Dalihan Natolu) Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) TN Nainggolan (Op Tarnama) menghimbau kepada pemerintah, polisi, penegak hukum dan yang terkait di dalamnya agar pemeriksaan dan penanganan insiden Protap 3 Pebruari lalu harus adil. Jangan dibiarkan orang-orang yang mau mengusik serta menggesek-gesek kekondusifan Sumut. Karena ada dugaan ada orang tertentu menungganginya untuk melampiaskan dendam pada peristiwa 3 Pebruari lalu. Bila peristiwa itu dikaitkan dengan SARA, ini tidak diterima akal. Demikian penjelasan TN Nainggolan kepada SIB, Selasa (24/2) di rumah Jalan Letkol GA Manullang Doloksanggul ketika dimintai tanggapannya mengenai insiden Protap di DPRDSU Medan.

TN Nainggolan menambahkan apabila peristiwa itu dikaitkan dengan isu SARA, maka kerukunan umat beragama dan kerukunan sesama suku yang selama ini terjalin dengan baik bisa rusak dan berbahaya. Himbauan Ketua Umum MUI Medan yang meminta peristiwa di DPRD Sumut tidak dibawa ke SARA sangat tepat dan merupakan jalan terbaik demi kekondusifan Sumut. Banyak terimakasih perlu disampaikan kepada Gubsu dan Kapoldasu yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tenang dan jangan mudah terprovokasi dengan peristiwa itu. Karena masyarakat Sumut adalah satu dan tidak ada anak tiri seperti yang disampaikan Gubsu dan itu dapat dibuktikan.

Aksi massa Protap yang menyampaikan aspirasinya ke DPRD Sumut adalah hak setiap masyarakat sesuai dengan undang-undang dan DPRD pun harus siap menampung aspirasi itu. “Coba kita bayangkan dan direnungkan,” kata TN Nainggolan masalah pembentukan Protap (Propinsi Tapanuli) sudah 7 tahun diidam-idamkan masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, kenapa aspirasi masyarakat itu tidak digubris oleh wakil rakyat di DPRDSU.

Bahkan belum lama ini puluhan ribu masyarakat Tapanuli yang dipusatkan di Kota Tarutung sudah menyampaikan kebulatan tekad untuk terwujudnya Protap yang dihadiri anggota DPR RI. Ada apa sebenarnya di DPRD Sumut, seolah-olah ada teka-teki dan siapa bisa menjawab ini. Namun terus terang, aksi yang mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumut H Abdul Aziz Angkat sangat disesalkan dan itu di luar dugaan. Itu tak diinginkan terjadi menyangkut pembentukan Protap sudah banyak dilakukan panitia baik itu dengan pertemuan dan membuat acara spektakuler supaya mimpi masyarakat bisa menjadi kenyataan dengan terbentuknya protap nyata demi kemakmuran masyarakat.

Dalam pemeriksaan baik pemerintah, polisi dan kejaksaan harus jelas dan lebih berhati-hati dan jangan melihat sebelah mata. Kenapa ini harus terjadi, tidak ada asap kalau tidak ada api. Sehingga dalam pemeriksaan harus menjurus apa yang terjadi sebenarnya. Apakah meninggalnya alm Abdul Aziz Angkat karena akibat desakan massa atau karena ada unsur lain seperti penyakit jantung. Di sinilah para penegak hukum harus hati-hati dalam melakukan penyelidikan. Massa Protap yang membawa peti mati perlu dipahami secara benar, kata Nainggolan. Arti peti mati di sini bukan tempat sebenarnya orang meninggal tapi peti mati itu mengibaratkan bahwa demokrasi itu sudah mati. Kenapa? Karena pembentukan Protap sudah 7 tahun ditunggu-tunggu masyarakat namun belum juga terwujud. Inilah arti peti mati dibawa ke DPRD Sumut. Padahal tugas DPRD itu menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat, tapi 7 tahun berjuang mewujudkan protap belum ada jawaban. Ini perlu diteliti.

Wakil Seketaris LADN Humbahas St RW Manalu juga mengatakan pembentukan Protap harus dicerna dengan jernih karena sudah dirindukan masyarakat Tapanuli. Pembentukan Protap itu merupakan gebrakan yang bagus demi kemajuan. Polri dalam melakukan penyelidikan insiden 3 Pebruari lalu harus jeli, apakah massa itu betul-betul pendukung Protap atau ada yang menyusut. Supaya jelas dimana letak persoalannya dan jangan saling menyalahkan. Pembentukan Protap jangan dikait-kaitkan dengan kepentingan pribadi karena panitia sudah banyak berkorban demi rakyat. Bahkan ada riak-riak supaya Universitas Sisingamangaraja XII ditutup. Apabila hal itu terjadi maka matilah pendidikan di Tapanuli. Seharusnya orang Batak bergandengan dalam masalah ini, hindarilah sifat-sifat yang dulu seperti hosom, teal, elat dan late dan marilah kita jalin persatuan dan kesatuan harapnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s