Harapan, antara Jalan dan Ketertinggalan


www.pakkatnews.com

Diposting May 25th, 2009 di kategori Berita Pakkat, Opini / Essai

Tanggal 21 Mei 2009 pagi, kami memulai perjalanan panjang menuju Pakkat dari Kampung Durian, Medan. Target perjalanan kami adalah Pakkat, tetapi setelah singgah di Siringoringo, kecamatan Parlilitan yang menjadi target utama. Perjalanan kami cukup ceria karena sepanjang jalan, mata begitu dimanjakan dengan hamparan ladang sayur di tanah Karo dan hutan hijau. Udara begitu sejuk, sehingga kami tidak perlu menyalakan AC. Paru-paru seperti mendapat rahmat yang luar biasa karena udara yang sangat sejuk dan segar. Jauh melebihi kualitas udara perkotaan seperti Jakarta dan Medan. 

Kondisi jalan dari Medan sampai Dolok Sanggul (via Kabanjahe), secara umum dapat dikatakan sedang. Kami sampai di Dolok Sanggul pada jam 15.10 WIB. Mungkin akan lebih cepat apabila jalan mulus tidak berlubang. Ruas jalan banyak berlubang terutama di kabupaten Dairi dan Humbang. Beberapa titik rawan longsor akibat penebangan pohon untuk keperluan bahan baku PT Toba Pulp Lestari (PT TPL). Perlu kita ketahui bahwa sampai pada saat ini daerah perbukitan Tele sampai Huta Paung kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan adalah tempat penebangan kayu PT TPL. Ratusan truk pengangkut kayu melintas hilir mudik di sepanjang kawasan itu. Beban berat dalam hitungan ton yang lalu lalang tentu mengakibatkan jalan cepat rusak dan berlubang. Apalagi pada saat turun hujan, seluruh kawasan itu rawan longsor karena pohonnya sudah ditebang, tidak ada lagi pohon yang berfungsi sebagai penahan air.

Perjalanan kami lanjutkan dari Dolok Sanggul menuju Siringoringo kecamatan Parlilitan. Kawasan perbukitan Dolok Pinapan dari sisi Timur kami susuri di daerah Sampean. Sepanjang kiri kanan jalan terdapat pohon Haminjon (kemenyaan). Pohon Haminjon ini tumbuh sampai hutan-hutan kecamatan Parlilitan. Hutan di daerah ini masih cenderung asri dan lebat, walau dibeberapa titik, truk-truk yang lebih kecil pengangkut kayu PT TPL sudah masuk kawasan ini, walau penebangannya relatif tidak sebesar ruas jalan Huta Paung kecamatan Pollung sampai dengan perbukitan Tele ke arah kabupaten Dairi dan Simalungun.

Aroma khas rerumputan tanah dingin berlomba memasuki rongga hidung, seperti aroma terapi. Udara sejuk dan segar mengisi paru-paru. Otakpun menjadi jauh lebih rileks. Kondisi Jalan dari Dolok Sanggul sampai Siringoringo berada dalam tingkatan sedang. Banyak ruas jalan berlubang dari mulai ruas jalan menurun di hutan Sampean – Pusuk sampai Siringoringo. Kebanyakan aspal masih baru, tetapi karena tidak adaanya selokan atau parit air di kiri kanan jalan mengakibatkan kondisi jalan tidak awet atau tahan lama. Saat itu tengah berlangsung pemasangan kabel listrik, katanya itu proyek adiknya Jusuf Kalla, Ahmad Kalla melalui PT Bukaka Tbk. Pasokan listrik diambil dari PLTA Simonggo I kecamatan Parlilitan dan akan dieksport ke Singapura. Semoga mereka memenuhi dulu daerah sekitar yang belum terjamah listrik baru kemudian berpikir mengekspor, sebab kalau ekspor listrik ke Singapura yang di utamakan, masyarakat sana hanyalah penonton belaka dan terus berada dalam kegelapan, sementara pengusahanya silau oleh uang listrik yang terpancar dari air terjun alam masyarakat Parlilitan.

Akhirnya perjalanan kami pun sampai di Sirigoringo pada pukul 17.18. Saya menarik nafas dalam-dalam, melempar pandangan ke arah puncak perbukitan Barati nun jauh disana, tempat marbatto tempo dulu. Marbatto adalah aktivitas menangkap burung (Pamal), dengan cara memasang jaring di atas pohon yang dirancang sedemikian rupa. Kenangan puluhan tahun yang lalu terbayang kembali. Segera sesudah itu, perjalanan kami lanjutkan ke Pakkat melalui Parlilitan. Kondisi jalan dari Siringoringo ke Parlilitan dengan jarak tempuh 15 menit adalah cukup baik. Perjalanan kami teruskan, jalan turun menuju arah Sitinjo. Kondisi jalan sangat bagus. Ketika mendekati Gaman, daerah yang terkenal dengan pandai besi pembuatan golok, kualitas jalan mulai berkurang. Lubang dan aspal yang sudah mengelupas menimbulkan cekungan memperlambat jalur perjalanan kami. Bekas longsoran terlihat di beberapa titik.

Kondisi jalan selepas Gaman semakin menjadi-jadi. Aspal jalan masih jalan seperti Desember 2007, ketika saya melewati ruas Parlilitan – Pakkat. Ada tiga jembatan kecil sepanjang ruas Aek Riman, Sihorbo, Huta Ambasang dan Sigalapang yang mempergunakan pohon kelapa. Bisa berbahaya pada perjalanan malam karena batang kelapa yang disusun kurang rapat. Di beberapa titik terdapat genangan air seperti kubangan. Sedikitnya ada dua titik dengan air menggenang seperti kubangan, walau hujan sudah tidak turun di daerah itu. Hal itu bisa dilihat dari keruhnya air genangan dan kental berlumpur.

Kondisi perkampungan dan rumah penduduk masih relatif sama dengan tahun-tahun dulu. Banyak rumah masih dalam kondisi jauh dari layak dan belum memenuhi kriteria rumah sehat dan sanitasi yang baik. Sungguh miris, bahwa negara kita ini sudah merdeka 60 tahun lebih tetapi kondisi masyarakat kebanyakan masih belum bisa secara nyata bangkit dari ketertinggalan. Pemerintah Humbanghas belum berhasil membangkitkan perekonomian pedesaan, terutama di pelosok-pelosok daerah Humbang Hasundutan. Yang terlihat masih sepanjang kiri kanan jalan yang bisa dilalui kendaraan, bagaimana dengan Sitapung, Lae Hundulan, Lae Ardan, Gulappa, Napasingkam, Rumbia, Sionom Hudon, Lembah Simonggo dan pelosok lainnya? Dalam keadaan surplus minyak tahun 1980-an saja daerah pelosok ini tidak tersentuh, apalagi sekarang ini dimana krisis menghantui perkenomian global. Saya berani menyangkal Bupati Humbang Hasundutan, Maddin Sihombing, dimana Humbang Hasundutan memperoleh penghargaan kabupaten terbaik pada beberapa waktu lalu. Saya bertanya, kabupaten terbaik dalam hal apakah yang diraih daerah ini? Daerah Humbang Hasundutan termasuk Papatar mengalami stagnasi dalam berbagai aspek perkembangannya. Infrastruktur jalan yang sangat buruk, dimana hal itu menjadi urat nadi perkembangan perekonomian. Jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, jaminan pendidikan yang baik bagi pelosok daerah-daerah yang tidak terjangkau listrik dan kendaraan roda empat serta jaminan sosial lainnya seperti pemberdayaan bagi daerah tertingal ditambah lagi pelayanan birokrasi yang buruk. Jadi masih banggakah sang bupati dengan predikat karbitan ‘terbaik’ itu? Sangat memalukan menerima predikat kabupaten terbaik bagi seseorang yang berpendidikan tinggi yang nyata-nyatanya jauh panggang daripada api.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.15 ketika kami melintasi Sitahuis. Kijang Innova yang kami bawa dalam rute Siringoringo – Pakkat kali ini cukup berlepotan lumpur dibagian bawah dan sisi kiri kanannya. Perjalanan kami kali ini sangat panjang. Setelah ziarah ke pekuburan Panigoran selesai, kami segera menuju rumah di Pargodungan, untuk beristirahat sejenak. Karena di rumah tidak ada orang, segera saya pesan kopi ke warungnya si Remon Manalu. Sambil bergantian mandi dan menyeruput kopi, kami bergantian bercerita mengenai perjalan panjang kami dari Medan tadi pagi. Tidak ketinggalan Tiopan Sianturi (dikenal dengan nama si Kappung) ikutan nimbrung dalam canda tawa kami. Kami terkesan dengan pengalaman ini, dimana kami mengitari Dolok Pinapan ketika dari arah Dolok Sanggul ke Parlilitan, dan dari Parlilitan ke Pakkat. Saya sendiri tidak tertidur mulai dari Medan, begitu menikmati perjalanan ini.

Bang Poltak, bang Parulian dan bang Pangihutan sesekali tertawa mengenang tanah kelahirannya Pakkat, yang sudah ditinggalkan lebih dari 33 tahun. Pada tahun 1974, mereka sudah hijrah ke Medan. Masa kecilnya tidak semuanya memang dilewatkan di Pakkat akan tetapi masih ingat jelas nama beberapa tempat bermain mereka dulu. Untuk melepaskan rindu sejenak, mereka sempat berkeliling ke kompleks sekolah Katolik Pargodungan, dimana sudah ribuan orang yang dididik disana dari berbagai penjuru Pakkat sekitarnya, bahkan dari Medan dan tanah Karo. Sekolah SMP dan SMA RK Pakkat telah banyak menamatkan siswanya, dan tersebar di berbagai kota di Indonesia ini bahkan di luar negeri.

Pada pukul 20.05, kami kembali berangkat menuju Parlilitan, Siringoringo, setelah makan di salah satu kedai makan di pasar Pakkat. Saya hanya sekilas melihat perpustakaan FIP dengan spanduk merah, tetapi lagi tutup. Sore tadi pun begitu. Tadinya, saya punya niat untuk melihat-lihat, tetapi karena sempitnya waktu dan acara Partangiangan akan berlangsung besok pagi di Siringoringo, keinginan itu belum tercapai juga. Walau saya sempat ngobrol sebentar dengan Ade Chandra Sihotang yang merupakan koordinator perpustakaan FIP di Pakkat. Dia berkeluh kesah tentang menurunnya animo kunjungan ke perpustakaan sekarang ini.

Notes :
Photo rute jalan menuju Pakkat dari Parlilitan tidak sempat kami abadikan karena waktu yang begitu sempit. Tetapi kabarnya, masih jauh lebih baik daripada ruas Parbotihan – Pakkat (catatan : saat ini sedang dalam perbaikan), dimana kawasan Arbaan sampai Pakkat sangatlah parah. Pada Desember 2007 lalu, ruas Onan Ganjang – Pakkat sangat memprihatinkan. Photo ruas jalan menuju Pakkat dari Dolok Sanggul sudah ada dimuat di situs ini sebelumnya.

By : Parbatto

2 thoughts on “Harapan, antara Jalan dan Ketertinggalan

  1. Perjalanan yg anda alami masih sama dengan saya alami baru-baru ini (Nopember 2011) saat pulang ke kampung Napasingkam, dan lebih parah lagi malah menuju Tarabintang hingga kampung Napasingkam (ujung dunia) menurut warga kampung setempat karena merupakan kampung yang tdk ada lagi jalur ke kampung lain (mentok) … Moga para pejabat daerah (Pemkab) bisa melihat dan pemperhatikan Papatar …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s