PETANI PAPATAR TERANCAM GAGAL PANEN


http://batakpos-online.com/

Tanaman padi petani di wilayah Pakkat, Parlilitan, dan Tarabintang  (Papatar), Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) terancam gagal dipanen. Akibat susahnya memperoleh pupuk bersubsidi. Ironisnya, meski terdaftar sebagai anggota kelompok tani (koptan), akan tetapi pupuk bersubsidi yang diharapkan tidak bisa diperoleh, padahal membentuk koptan dibutuhkan biaya tidak sedikit.

Hal itu disampaikan L Sihotang (penduduk Desa Siambaton), Markus Simbolon (warga Hauagong Kecamatan Pakkat), Amin Hasugian, dan Darmin Sihotang (penduduk Desa Pearaja, Parlilitan). Selain susah memperoleh karena hanya ada di kios pengecer, harga pupuk bersubsidi harus dibeli dengan lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET). Akibatnya, ribuan hektare (ha) sawah belum dipupuk.

Selain masalah harga di atas HET, pemantauan BATAKPOS dari berbagai sumber menyimpulkan bahwa rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) sebagai acuan alokasi pupuk secara sepihak diubah oleh dinas terkait dengan alasan yang tidak jelas. Sehingga mengurangi jumlah pupuk yang mereka peroleh.Salah seorang penyuluh pertanian lapangan (PPL) bermarga Situmorang kepada BATAKPOS, beberapa waktu lalu, mengatakan sesuai ketetapan pemerintah setiap kepala keluarga (KK) hanya boleh memiliki lahan maksimal 1 ha. Sehingga luas lahan yang dimiliki setiap koptan dikurangi. Anehnya penyaluran pupuk juga tidak sesuai bila mengikuti aturan itu, sehingga ketua koptan kewalahan membagi pupuk untuk kelompoknya.

Menurut L Sihotang kepada BATAKPOS, Minggu (7/6), karena harga yang tinggi serta susah diperoleh membuat sawahnya belum dipupuki sebagaimana biasanya. Hal ini dikhawatirkan akan membuat bulir yang tumbuh akan kosong melompong.
B Pane menambahkan, bagaimana mahalnya harga pupuk subsidi yang mereka beli. urea menyentuh angka Rp80 ribu/sak, NPK Rp135 ribu/sak, dan za Rp115 ribu/sak. (1 zak setara dengan 50 kilogram/kg).

Lain lagi keluhan M br Hasugian. Penduduk Simpang Tiga Tarabintang ini menuturkan, kekosongan stok di kios pengecer membuat mereka terpaksa membeli pupuk organik pengganti za dengan harga Rp25 ribu/sak (1 zak sekitar 15kg).

“Kalau pupuk za tidak ada, padi akan mati karena persawahan tanah keras dan harus disiram dengan pupuk agar lembek. Sehingga sari pupuk bisa diserap tanaman,” ujarnya menyampaikan keluhannya kepada BATAKPOS, Sabtu (6/6).

Amin Hasugian, penduduk Dusun Napasingkam, Desa Simbara, Tarabintang, melalui BATAKPOS berharap agar Pemkab Humbahas menemukan solusi terbaik. Karena bila pupuk bersubsidi yang dibutuhkan tidak ada, maka padi tidak akan berisi bulir-bulir beras.

“Kami sudah membayar untuk membuat koptan, tetapi pupuk tidak datang. Apakah Pemkab Humbahas menganggap tidak cukup derita kami alami setelah dihantam banjir bandang Januari 2007, sebagian besar persawahan tidak bisa diolah lagi karena tertimbun. Sementara lahan yang ditanami nantinya tidak akan menghasilkan apa-apa. Padahal untuk mengolah lahan yang sedikit itu kami telah bekerja ekstra keras karena sebelumnya telah tertimbun longsoran tanah, sementara bantuan dari pemkab untuk mengorek timbunan tanah tidak ada,” keluh Amin.

Sementara itu, Jhonson Limbong, warga Dusun Aek Sopang, Desa Rura Aek Sopang, Kecamatan Pakkat kepada BATAKPOS mengaku lega atas kebijakan Ketua Koptan Langge menetapkan harga tidak jauh dari kios pengecer. Koptan ini menetapkan harga pupuk NPK Rp115 ribu/sak dan Za Rp85 ribu/sak, padahal dibayar kepada kios pengecer pupuk yang sama dijual Rp110 ribu/sak dan Rp70 ribu/sak.

“Padahal, mereka juga harus membayar ongkos untuk membawa pupuk ke mari dan anggota kelompok tani tidak membayar lunas. Selain itu, untuk mengurus agar pupuk bisa diperoleh membutuhkan biaya yang juga tidak sedikit, baik itu untuk ongkos maupun membuat kelengkapan administrasinya,” ungkap Marbun.

Sebelumnya, Marbun yang menjabat Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Humbahas kepada BATAKPOS menyebutkan, sesuai Peraturan Menteri Pertanian No 17/Permentan/SR.130/5/2006 tanggal 17 Mei 2006 bahwa HET pupuk bersubsidi adalah urea Rp1.200/kg, NPK Rp1.700/kg, dan Za Rp1.050/kg. pol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s