CATATAN BUDAYA DUAMAN M PANJAITAN, MANGIRDAK


http://batakpos-online.com/Buku Kamus Batak Toba-Indonesia  oleh Drs Richard Sinaga mengatakan bahwa mangirdak adalah acara untuk menguatkan seorang wanita (ibu muda) yang akan melahirkan anak pertamanya yang biasanya dilakukan ketika hamil tua (sekitar tujuh bulan). Pihak keluarga si wanita (hula-hula) memberikan dengke sitio-tio, boras si pir ni tondi, ulos mula gabe (ulos tondi) serta doa restu kiranya anaknya melahirkan dengan selamat.

Secara medis memang diakui bahwa kehamilan pertama seorang ibu muda adalah kritis dan memerlukan perhatian yang lebih seksama, baik secara fisik maupun psikis. Kesehatan fisik perlu dijaga sebaik-baiknya dan kekhawatiran ibu muda itu perlu dihindarkan. Untuk itulah acara khusus mangirdak dianggap penting untuk memberikan semangat dan keyakinan bagi ibu muda bahwa Tuhan akan menguatkan dan melancarkan kelahiran anak pertama itu dengan selamat.

Pada zaman dahulu di kampung halaman (bona pasogit), orang tua dari ibu muda itu akan mempersiapkan hare, sejenis bubur dari tepung beras yang dibumbui dengan bermacam-macam ramuan, sari buah-buahan yang manis, telur ayam dan lain-lain. Dimasak hingga menjadi bubur kental dan lengket dengan warna dan aroma yang membangkitkan selera serta memberikan rasa hangat di seluruh tubuh jika dimakan. Di samping hare, orang tua itupun membawa makanan kesukaan anaknya (ibu muda) itu baik berupa daging ayam, ikan atau jenis lauk lainnya.

Di wilayah adat Toba, acara ini juga disebut pabosurhon (memberi makan supaya kenyang), pada umumnya hanya dilakukan oleh peremupan atau ibu-ibu. Alasannya, karena dalam pembicaraan tentang proses kelahiran di antara para wanita itu akan ada berbagai hal yang kurang pantas didengar oleh laki-laki.

Di wilayah Silindung, acara ini dikenal dengan nama Pasahat Ulos Tondi yang intinya adalah memberikan ulos tondi kepada ibu muda itu sebagai tanda doa restu dari orangtuanya agar Tuhan memberikan kesehatan dan kekuatan sehingga proses kelahiran anak pertamanya berjalan dengan lancar dan selamat. Istilah ulos tondi dianggap tidak sejalan dengan kekristenan yang kita imani dewasa ini, sehingga sudah diganti dengan ulos mula gabe, atas dasar pengertian bahwa ulos itu diberikan kepada ibu muda yang menantikan kelahiran anak pertamanya, yaitu anak permulaan keturunan (mula ni hagabeon) dalam rumahtangganya.

Acara mangirdak di wilayah  Toba tidak memberikan ulos semacam itu, meskipun orang-orang Toba di Jabodetabek juga sudah memberikan ulos mula gabe. Di wilayah adat Samosir dan Humbang acara ini tidak dikenal. Akan tetapi mereka yang berasal dari Samosir dan Humbang pun telah melaksanakan acara pasahat ulos mula gabe kepada boru-nya yang menantikan kelahiran anak pertaman di Jabodetabek. Mungkin karena dianggap baik dan perlu sebagai tanda doa restu bagi ibu muda itu.

Ralat: Terjadi kesalahan teknis pemuatan Dalihan Natolu di BATAKPOS edisi Selasa (30/6) yang telah pernah dimuat. Terima kasih. Redaksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s