Korban Banjir Bandang Terancam Lapar


-Pemprov Sumut tak Punya Helikopter Angkut Logistik 

-Sudah 38 Tewas, Ratusan Rumah Tertimbun Lumpur

Panyabungan, BATAKPOS

Kelaparan mengancam ribuan pengungsi yang terkena musibah banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Pasalnya, semua logistik yang sudah sampai ke wilayah Natal, tak bisa diangkut karena sulitnya menjangkau lokasi bencana.

Kesiapan Pemkab Madina dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam penanggulangan setiap bencana, hanya isapan jempol. Buktinya, kendati semua bantuan logistik sudah dikirimkan ke wilayah terdekat, yakni Natal, tak satu pun yang bisa diangkut ke tujuh desa yang terkena bencana banjir bandang tersebut. Kondisi ini diperparah karena ternyata Pemprov Sumut tak punya alat angkut udara seperti helikopter.

“Inilah kendalanya. Karena faktor transportasi, maka bantuan makanan hingga pengiriman personil jadi terhambat. Kalau ada helikopter, masalah bisa teratasi dengan cepat. Makanya kita mengharapkan adanya bantuan pinjaman helikopter,” kata Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokom) Sumut, Eddy Syofian di Medan, Rabu (16/9).

Dijelaskannya, lokasi bencana sulit dicapai dengan transportasi darat. Dari Panyabungan, Ibukota Mandailing Natal yang berjarak sekitar 510 kilometer dari Kota Medan, jalur darat hanya dapat ditempuh hingga Desa Singkuang, yakni ibukota Muara Batang Gadis, sekitar 200 kilometer. Sementara dari Desa Singkuang menuju lokasi, harus melalui jalur sungai dengan waktu tempuh beberapa jam.
Bahkan, wartawan BATAKPOS Indrawan Gunawan yang langsung terjun ke lokasi, baru tiba di salah satu desa yang terkena banjir bandang dalam tempo tujuh jam. Itu pun harus melalui jalur sungai yang cukup riskan dilewati karena hujan turun tiada henti.

Dilaporkannya, logistik berupa bahan makanan, obat-obatan, tenda, dan selimut yang dibawa tim Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Banjir (Satkorlak PBB) Sumut, saat ini masih tertahan di Natal. Sebenarnya, distribusi logistik bisa lebih cepat didorong ke lokasi bencana dengan menggunakan perahu karet. Yakni melalui rute Singkuang, Kecamatan Muara Batang Gadis menuju lokasi bencana dengan jarak tempuh sekitar empat jam. Ironisnya, ketersediaan perahu karet yang mampu mengangkut muatan sampai 500 kilogram itu tidak dimiliki Pemkab Madina.  Padahal untuk menjangkau lokasi bencana, seperti Rantau Panjang, Lubuk Kapondong I, Lubuk Kapondong II, Sale Baru, Tabilang, dan Manungcang, perahu karet mutlak diperlukan. Selain dengan udara (helikopter), lokasi ini hanya bisa ditempuh dengan jalur air karena geografis keenam desa itu dikelilingi gunung dan laut, sangat terisolir dari dunia luar.

Dari catatan terakhir hingga Rabu (16/9) malam, sebanyak 11 korban  yang hanyut sudah ditemukan jasadnya. Dengan demikian, sudah 38 orang dinyatakan tewas. Selain itu, sebanyak 255 rumah hanyut terbawa arus air dan 361 rumah tertimbun Lumpur di enam desa yang terkena bencana. (zul/isk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s