Budaya Batak Erat dengan Musik Gereja


 

http://www.harian-global.com/Written by Redaksi Web   
Friday, 16 October 2009 09:25
Bupati Samosir Ir Mangindar Simbolon didampingi Kadis Parawisata Drs Melani butar-butar, Kabag Kessos Drs Purnawarman Malau, Kabag Humas Tumpal Malau SE MSi menerima kunjungan Lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Musik Gereja (LP3MG) yang berkedudukan di Tarutung di ruang kerja bupati, Kamis (15/10).
Pada kesempatan itu, LP3MG diwakili oleh Dr Hulman Sihombing M.Th sebagai Pembina, Amudi Lumban Tobing SSn, MHum sebagai Ketua Pelaksana dan Taripar Arifin Samosir SSos MSc sebagai Sekretaris.
Bupati Samosir Ir Mangindar Simbolon mengatakan budaya musik Batak sangat erat dengan liturgi di gereja, yang dilakukan hampir 75 persen dengan acara menggunakan musik dan nyanyian pujian. Ada ciri khasnya  penggunaan musik Batak di gereja, di samping khusuk, juga ada rasa memiliki budaya dalam kebaktian.
Dr Hulman Sihombing mengharapkan kesediaan Bupati Samosir sebagai pelindung bersama-sama dengan Bupati Taput, Humbang Hasundutan, Bupati Tobasa, Dandim 02/10 TU dan Ketua STAKPN Tarutung. Dr Hulam Sihombing juga mengundang Bupati dan praktisi musik Samosir dalam acara seminar Internasional  Varieties of Church Music (Keberagaman Musik Gereja) dan sekaligus pelantikan pengurus Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Musik Batak yang dilaksanakan di Tarutung pada 30 Oktober 2009.
Bupati Samosir menyambut baik acara seminar tersebut, sesuai dengan Visi Kabupaten Samosir terutama di bidang pembangunan seni budaya lokal termasuk untuk musik gereja.
Bupati Samosir juga menjelaskan bahwa Kabupaten Samosir ingin mengembangkan dan menggali keaslian jenis-jenis musik tradisional Batak dan berharap dalam musik Gereja jangan hanya didominasi oleh musik moderen dan lirik Barat namun  musik dan lagu bernuansa Batak dapat dilaksanakan dalam Gereja.
Dalam pelaksanaan seminar yang akan datang, Bupati Samosir  juga meminta agar diagendakan pembahasan dan penelitian tentang musik Batak secara ilmiah karena  banyak sekte yang tidak menerima musik Batak  di dalam acara gereja seperti alat musik Sordam, Gondang dan uning-uningan Batak lainnya karena dulunya alat tersebut digunakan masyarakat mendatangkan roh.  
Sesuai dengan perkembangan zaman, alat musik tersebut dengan suara musik yang memiliki frekwensi yang berbeda, dapat mengeluarkan suara yang khas dan unik dan saat ini seperti tagading sudah ada nada dasarnya.
Bupati juga menjelaskan bahwa pada acara Grand Strategi Kolaboratif Pembangunan Kabupaten Samosir yang lalu, dilakukan pagelaran visualisasi seni budaya Batak salah satunya, mangalahat horbo di Batu hobon yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Medan, dengan menggunakan budaya batak asli seperti penggunaan bahasa dan umpama batak.
Seperti perkataan Uskup bahwa datu Pangomgom (Bupati) dan Datu Parngongong (Uskup) sehingga sebutan ini bisa diartikan lain karena ada kata-kata Datu yang dulunya ditafsirkan Dukun padahal  sebenarnya itulah bahasa batak asli yang artinya orang yang dituakan. TETTY NAIBAHO | GLOBAL | samosir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s