Saatnya Melestarikan Danau Toba


http://www.pakkatnews.com

Oleh :  AGUSTINA PANE
(Siswa Kelas IX, SMP N 1 Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan)

Karya Tulis yang berjudul “Saatnya Melestarikan Danau Toba” ini,  berhasil menjuarai lomba karya tulis yang diselenggarakan olehKomunitas Toba Lovers, yang diadakan pada Desember 2009 ) dan menerima  penghargaan atas tulisannya ini langsung dari Bapak Nestor  Rico Tambunan selaku dewan juri dan juga sebagai Dosen UI jurusan Penerbitan (Red).

BAB I

PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang

Danau Toba adalah salah satu danau air tawar terbesar dunia, yang memiliki luas areal perairan mencapai puluhan km2 dengan kedalaman sampai 900 m pada bagian yang terdalam. Danau Toba terletak pada daerah dataran tinggi Toba di Sumatera Utara dengan ketinggian permukaan airnya mencapai 698 m dari permukaan laut. Danau Toba tercakup dalam wilayah administrasi dari tujuh kabupaten yang terletak di daerah dataran tinggi Sumut.

Karena keeksotikan dan keindahan alamnya, dulu orang menyebut danau ini sebagai salah satu obyek wisata paling memikat di planet Bumi. Semilir udara pagi yang sejuk, deburan riak ombak yang mengalun jernih, hamparan hutan tropis nan hijau, ditambah dengan daerah perbukitan yang berdiri anggun ke angkasa, semua menggambarkan keagungan Sang Pencipta. Di tengah danau, menyembul ke angkasa Pulau Samosir yang membujur dari utara ke selatan sepanjang kurang lebih 45 km dengan lebar 19 km. Secara biofisik kawasan Danau Toba merupakan tempat bermukim yang aman dan sehat bagi manusia. Danau Toba dulu tercatat sebagai danau air tawar kebanggaan rakyat Indonesia khususnya masyarakat Sumut, karena keindahan panaroma alamnya, kenyamanan dan kesegaran udaranya, keasrian dan keterpaduan lingkungan alam, keramahan penduduk yang bermukim di sekitarnya, serta nilai budaya dan adat tradisional yang tinggi, yang kesemuanya itu menarik perhatian dan respon masyarakat internasional.

Tetapi sekarang ini, Danau Toba telah manjadi danau yang jauh dari kebanggaan. Danau Toba telah ditimpa malapetaka karena dirusak orang atau masyarakat yang memiliki kepentingan dengan ekosistem danau tersebut. Danau Toba telah diperkosa secara tragis oleh kepentingan industri, keserakahan investor, ketidakpedulian masyarakat sekitar, ketidakberdayaan pemerintah, serta faktor-faktor perusak lainnya.

2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Hal-hal apa sajakah yang menjadi penyebab air Danau Toba menjadi semakin kritis sehingga air Danau Toba mengalami penurunan dan menjadi kotor dan gatal ?
  2. Bagaimanakah kiat untuk mengatasi agar air Danau Toba tersebut kembali seperti dulu lagi ?

3. Tujuan Penulisan Makalah

Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan sumbangan pemikiran tentang penciptaan lingkungan yang tertata, terpelihara dan terjaga, bagi lingkungan penulis sendiri, khususnya kepada masyarakat di sekitar Danau Toba terutama kepada pemerintah setempat agar dapat memelihara serta melestarikan Danau Toba yang kita cintai tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

Kondisi Danau Toba kini semakin kritis. Bayangkan, dari luas 260 ribu hektar, sekitar 100 ribu hektar sudah rusak ekosistemnya. Banyak sampah yang dibuang masyarakat dan turis ke danau ini. Budidaya ikan yang dulu dilakukan secara tradisional, kini bergeser menjadi jutaan keramba yang mengotori danau ini. Tinggi permukaan air Danau Toba secara nyata terus menurun karena volume airnya yang keluar melalui hulu Sungai Asahan lebih besar dari volume air yang masuk ke Danau Toba melalui daerah tangkapan airnya.

A. Penyebab Danau Toba Menjadi Semakin Kritis

Ada beberapa faktor yang menjadikan Danau Toba menjadi semakin kritis seperti sekarang ini antara lain :

1)  Akumulasi Limbah

Pencemaran terhadap air Danau Toba, sebenarnya sudah dimulai sejak puluhan tahun silam. Hampir semua penduduk yang bermukim di pesisir pantai Danau Toba membuang limbah langsung ke dalam Danau Toba. Kalau dahulu, volume limbah mungkin masih sangat kecil, demikian juga jenis limbahnya bukanlah dari bahan kimia yang berbahaya. Tetapi sesuai dengan perjalanan waktu yang diikuti oleh pertambahan jumlah penduduk, juga perubahan jenis dan bentuk kegiatan aktivitas, maka volume dan jenis limbah yang masuk ke Danau Toba jelas sangat meningkat dan sangat membahayakan. Sejak tahun 60-an, petani di sekitar Danau Toba telah terbiasa menggunakan pupuk kimia secara tidak terkontrol, padahal semua aliran air dari persawahan bermuara ke Danau Toba. Pada masa tahun 60-an juga, terdapat banyak industri textil (pabrik tenun) di sekitar pesisir Danau Toba seperti di Balige, Pangururan dan Nainggolan yang semua saluran pembuangan limbah industri secara faktual bermuara ke Danau toba.

Memperhatikan topografi wilayah sekeliling Danau Toba dapat diketahui bahwa Danau Toba pada umumnya dikelilingi daratan berupa lereng yang tinggi, jauh di atas permukaan air danau. Hanya ada sedikit area yang permukaannya lebih kurang sama dengan permukan air Danau Toba yaitu bagian hulu Sungai Asahan. Kondisi wilayah seperti itu membuat Danau Toba menjadi muara dari semua aliran yang berasal dari daratan diatasnya, terutama air sungai dan tali air.

Pencemaran perairan Danau Toba diikuti oleh merebaknya tanaman air eceng gondok yang menutupi permukaan air danau. Hampir di seluruh kecamatan di sekeliling Danau Toba demikian juga dengan di Pulau Samosir, populasi eceng gondok cenderung meningkat.

2)  Dijadikan Toilet Raksasa

Pada masa pesatnya kedatangan turis mancanegara ke Pulau Samosir, pernah dilakukan penelitian terhadap kualitas air sekitar Kota Tomok, Resort Tuktuk Siadong serta areal sekitarnya. Dari hasil penelitian itu diketahui bahwa bakteri E-coli yang sumbernya berhubungan dengan tinja manusia telah memiliki jumlah yang sangat luar biasa di perairan danau. Jumlah bakteri E-coli yang sangat besar ini adalah ancaman langsung terhadap kesehatan manusia. Kondisi ini menunjukkan bahwa instalasi-tank di hotel-hotel dan perumahan penduduk di wilayah tersebut berhubungan langsung dengan perairan Danau Toba.

3)  Maraknya Keramba Apung dan Tiadanya Hutan

Pemeliharaan ikan nila di dalam keramba apung merupakan alternatif terbaik bagi masyarakat, setelah timbulnya wabah terhadap ikan mas yang dipelihara dalam keramba. Sementara menangkap ikan yang bebas di dalam danau sulit memberi hasil menggembirakan karena populasi ikan sudah sangat kecil. Pemeliharaan ikan dalam keramba apung harus diakui memberi efek negatif kepada lingkungan Danau Toba terutama efek dari bahan pakan ikan (berupa pelet) yang tidak terkonsumsi oleh ikan piara dan terbuang secara continue ke dalam danau. Jumlah kumulatif bahan pakan ikan yang terbuang dari seluruh keramba apung diperkirakan sudah sangat besar, dapat dibayangkan masalah yang mungkin terjadi bila keadaan tersebut masih terus berlanjut. Di sisi lain, adanya perusahaan asing yang memelihara ikan keramba apung di Danau Toba, diduga berperan sangat besar memberi sumbangan limbah ke dalam danau baik berupa pelet terbang maupun limbah jenis lainnya.

Perusahaan ini diyakini memiliki jumlah ikan pemeliharaan sangat banyak, dengan demikian jumlah limbah terbuang dari seluruh keramba apung yang dimiliki perusahaan ini diperkirakan sangat besar setiap harinya. Sebagai perusahaan perikanan yang banyak memberi devisa bagi negara, maka diduga pemerintah akan sulit mengontrol langsung pembuangan bahan beracun yang mungkin dilakukan perusahaan tersebut. Secara faktual Danau Toba yang dahulu sangat indah dan sangat dibanggakan, telah mengalami degradasi nilai berupa penurunan permukaan air dan penurunan kualitas air akibat limbahnya seperti limbah rumah tangga, limbah keramba apung dan limbah lainnya.

Seandainya seluruh area yang mengelilingi Danau Toba ditumbuhi oleh pepohonan dan vegetasi lainnya yang membentuk hutan, maka diyakini bahwa hutan di sekeliling Danau Toba akan menambah keindahan panorama dan kenyamanan lingkungannya. Demikian halnya dengan puncak dan lereng Samosir yang secara faktual tandus dan gundul, akan berubah menjadi hijau dan lebih subur bila ditumbuhi pepohonan. Adanya hutan di sekeliling Danau Toba diharapkan akan memberi sumbangan air ke Danau Toba. Hutan akan menyimpan air dan selanjutnya mendistribusikannya secara teratur ke area yang lebih rendah. Tetapi gambaran adanya hutan di sekeliling Danau Toba tidak mungkin terwujudkan atau upaya reboisasi di daerah ini dapat dikatakan mustahil. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa area sekeliling Danau Toba dan Pulau Samosir dari  tahun ke tahun semakin kritis. Demikian juga hanya dengan hutan yang dulunya ada, sekarang sudah habis.

3)  Air Keluar Lebih Besar Dari Air Masuk

Penurunan permukaan air Danau Toba secara visual memang terlihat lambat seiring perjalanan waktu, namun keadaan itu adalah karena hamparan air danau itu sangat luas sehingga memberi kesan bahwa penurunan permukaan air danau terlihat pelan. Bila memperkirakan luas Danau Toba yang sangat besar, serta tinggi permukaan air yang telah turun maka sebenarnya volume air yang turun atau hilang, telah mencapai jumlah yang sangat besar sekali. Sebagai warga yang berasal dari kawasan di dekat Danau Toba, maka dari pengamatan penulis, dapat diketahui bahwa penurunan permukaan air Danau Toba telah mencapai lebih dari tiga meter selama dua dekade terakhir. Pemerintah mungkin sulit untuk bertindak mengurangi volume air yang keluar melalui hulu Sungai Asahan, karena hal itu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap Pembangkit Tenaga Listrik untuk kepentingan Perusahaan Alumininium (INALUM) yang berada di pesisir Timur Sumut.

Dalam ketidak-berdayaan, pemerintah justru mengambil solusi yang tidak menarik, yaitu mengalihkan muara Sungai Lae Renun ke Danau Toba, dengan harapan sumbangan air dari Sungai Lae Renun tersebut dapat menutupi defisit air Danau Toba. Pemerintah dinilai tidak memperdulikan adanya material berupa pasir dan kerikil yang terbawa Sungai Lae Renun ke dalam Danau Toba karena efek negatifnya mungkin baru terlihat setelah jangka waktu yang agak lama dimasa mendatang.

Ir Bezalel Siagian MSi

http://www.google.co.id/gwt/n?u=http%3A%2F%2Fwww.savelaketoba.org%2Fhighlights%2Fpemanfaatan-karifan-lokal-dalam-penanganan-ekosistem-danau-toba%2F2%2F&hl=id&source=m&start=10

mengatakan sebagai warga yang berasal dari pesisir Danau Toba merasakan bahwa bibir pantai Danau Toba telah menurun sampai 6 (enam) meter selama 40 (empat puluh) tahun ini. Dapat dibayangkan volume air yang hilang selama 4 (empat) dekade terakhir. Penyebabnya sudah jelas selain berkurangnya sumbangan air dari sekitar Danau Toba, salah satu faktor utama adalah terlalu besarnya volume air keluar melalui hulu Sungai Asahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kejadian naiknya permukaan air Danau Toba karena pintu air dari proyek PLTA Siruar tidak dibuka. Dengan perkataan lain tinggi permukaan Danau Toba diduga sangat dipengaruhi oleh kegiatan proyek PLTA, sebagai sumber listrik bagi PT. Inalum.

4)  Hilangnya Jenis Ikan Tertentu dari Danau Toba

Dahulu di Danau Toba terdapat banyak ikan khas Batak, yaitu Ihan Batak (Lisochillus, sp.). Tetapi populasi Ihan Batak secara drastis menurun dan bahkan hilang dari Danau Toba semenjak penjajahan Jepang. Diduga introduksi ikan mujahir oleh penjajahan Jepang ke dalam Danau Toba menyebabkan hilangnya Ihan Batak dari Danau Toba. Sampai akhir tahun enam-puluhan masih ditemukan ikan mas (Cyprinus carpio) berukuran besar dalam jumlah yang banyak di Danau Toba. Demikian juga ikan-ikan khas Tapanuli lainnya, seperti : Halu (Bawal Air Tawar), Asa-asa, Tiri-tiri, Tio-tio dan Pora-pora, masih dapat ditangkap oleh nelayan tradisional di kawasan Danau Toba.

Tetapi sejalan dengan meningkatnya pemakaian bahan kimia di pesisir Danau Toba serta semakin menurunnya permukaan air danau itu, maka populasi ikan-ikan tersebut mulai menurun drastis. Introduksi udang air tawar ke Danau Toba pada tahun tujuh-puluhan pada akhirnya tidak berhasil, karena keberadaan udang air tawar tersebut sulit ditemukan sekarang ini di Danau Toba. Menurut nelayan tradisional, dimasukkannya udang air tawar ke Danau Toba justru hidup bebas di Danau Toba.

Dinas Perikanan diketahui secara rutin menebar benih ikan ke Danau Toba terutama ikan emas. Akan tetapi dari wawancara dengan nelayan tradisional dapat diketahui bahwa upaya penebaran benih ikan tersebut kurang berhasil karena sangat sulit memperoleh ikan emas agak besar hidup bebas secara alami di Danau Toba. Diduga ikan emas sudah sangat sulit bertumbuh secara alami dengan kondisi Danau Toba sekarang ini. Kualitas air Danau Toba yang menurun serta bibir pantai yang semakin menurun membuat danau itu tidak sesuai sebagai tempat hidup ikan emas.

5)  Pantai Tanpa Tata Ruang

Harus diakui bahwa aktivitas kegiatan penduduk di sekitar danau adalah pada pemukiman-pemukiman sekitar pantai, terutama pada kota-kota yang berfungsi sebagai pelabuhan. Sejak dahulu kala, bibir pantai Danau Toba telah dimanfaatkan oleh penduduk sebagai lokasi pemukiman. Mereka cenderung membuang limbah rumah tangga langsung ke Danau Toba atau melalui saluran-saluran air limbah (got) yang bermuara ke Danau Toba. Terutama pada kota-kota sekeliling Danau Toba, (kecuali Kota Porsea dan Laguboti), limbah kota secara langsung terlihat mengotori Danau Toba.

Memperhatikan perkembangan pemukiman penduduk di pinggiran Danau Toba terutama mengenai jumlah bangunan yang bertambah, populasi penduduk yang semakin besar, saluran irigasi, sistem pembuangan limbah maka dapat diperkirakan bahwa volume limbah berbahaya yang masuk ke dalam Danau Toba akan semakin meningkat setiap tahunnya.

  1. Kiat Mengatasi Danau Toba Yang Semakin Kritis

Solusi terhadap permasalahan yang mendera Danau Toba adalah memanfaatkan kembali kerifan lokal. Saran terhadap solusi ini didasarkan kepada kenyataan bahwa dahulu pemanfaatan lahan dan tanaman selalu mengikuti aturan kearifan lokal, dan hasilnya selalu memuaskan bagi masyarakat. Setelah kearifan lokal ditinggalkan, timbullah berbagai masalah seperti : perkara perebutan lahan rakyat yang tidak berkesudahan, pengurasan ikan dari Danau Toba, tiadanya kontrol terhadap hutan dan padang penggembalaan serta sirnanya ketentuan pendirian rumah dan huta (kampung). Ketentuan kerifan lokal dapat dibedakan sebagai berikut :

1) Kearifan Lokal

Kearifan lokal adalah sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya, yang membentuk tingkah laku turun-temurun yang bertujuan melestarikan lingkungan dan alam sekitarnya.

Kerifan lokal dibuat berdasarkan hubungan sosial dan interaksi-sosial masyarakat yaitu: kelompok marga Dalihan Natolu serta Bius. Ruang lingkup kearifan lokal meliputi : alam fisika dan gejala-gejala alam, jenis fauna dan flora, sistem bertani, beternak perikanan, latar budaya sosial seperti : sistem peralatan, eksploitasi alam, pantangan dan lain-lain sebagainya.

2) Kearifan Lokal Penangkapan Ikan

Dahulu kearifan lokal penangkapan ikan di sekitar Danau Toba ditujukan untuk melestarikan jenis ikan yang ada di daerah itu. Para leluhur masyarakat Batak menyadari keterbatasan Danau Toba sebagai tempat hidup ikan. Berbeda dengan laut dan danau lainnya, dimana habitat ikan mencakup seluruh tempat, mulai dari pantai sampai bagian dasar maka di Danau Toba hanya bagian tepi dan air permukaan yang dapat menjadi tempat hidup ikan.

Keterbatasan tersebut mengharuskan adanya ketentuan kearifan lokal penangkapan ikan. Bebrapa aturan kearifan lokal pengangkapan ikan yang berlaku dahulu di Danau Toba adalah :

  • Kuota Penangkapan

Terdapat aturan kesepakatan bahwa nelayan di Danau Toba tidak boleh menangkap ikan terlalu banyak. Masyarakat hanya boleh menangkap ikan cukup untuk dikonsumsi sendiri atau boleh lebih banyak bila profesinya memang nelayan, tetapi itupun harus dengan volume dan ukuran ikan yang tertentu.

  • Area No Fishing

Beberapa lokasi di Danau Toba dinyatakan sebagai area No Fishing. Pelanggaran terhadap aturan ini diberi sanksi oleh raja wilayah.

  • Ukuran dan Kondisi Ikan Yang Dapat Ditangkap

Dahulu, nelayan dan masyarakat umum harus mengembalikan ikan tangkapan berukuran kecil ke Danau Toba. Demikian juga dengan ikan betina yang bertelur.

Ketiga aturan-aturan diatas sangat penting diterapkan kembali pada masa sekarang untuk mengurangi tekanan terhadap populasi ikan di Danau Toba. Dengan penerapan aturan ini diharapkan penaburan di Danau Toba oleh Dinas Perikanan tidak menjadi sia-sia.

Beberapa aturan dari kearifan lokal yang dianggap perlu untuk diterapkan kembali adalah :

  • Penempatan/lokasi Alat Tangkap Ikan

Dahulu bubu sebagai alat tangkap ikan ditampatkan di sekitar pantai, lokasinya tidak bisa sembarangan harus dengan persetujuan raja dan atau masyarakat lainnya. Pengangkatan ikan (hasil) dari dalam bubu juga pada waktu yang disepakati bersama.

Aturan ini diharapkan bisa diterapkan pada keramba apung digunakan masyarakat sekarang. Seharusnya disepakati lebih dahulu apakah keramba apung bisa individu atau komunitas ? Dimana lokasi keramba apung (lokalisasi) dan berapa jumlah keramba (batasan maksimum).

  • Tala – lata ripe – ripe

Salah satu ciri perikanan rakyat dahulu adalah adanya empang milik komunitas atau disebut ambar atau Tala – lata ripe – ripe. Empang seperti ini adalah sumber bibit ikan yang dipelihara di sawah. Model seperti ini dapat diterapkan kembali pada masa sekarang ini. Tala – lata ripe – ripe dapat ditempatkan pada muara sungai atau tali air yang mengalir ke Danau Toba. Secara berkala ikan – ikan dengan ukuran tertentu dilepas ke Danau Toba.

3) Kearifan Lokal Pertanian Tanaman Pangan

Dahulu kearifan lokal sangat berperan pada pengusahaan pertanian disekitar Danau Toba. Semua kegiatan pertanian terutama pertanian tanaman pangan selalu disertai dengan aturan-aturan yang berhubungan dengan keberlanjutan sistem pertanian yang ada. Misalnya terdapat aturan-aturan tentang pengolahan lahan, pengairan, pemakaian, pupuk, pemakaian bibit, masa turun tanam, masa panen, lumbung desa dan lain-lain.

Tetapi larangan dari pemerintah penjajah Belanda terhadap beberapa aturan kearifan lokal justru telah melunturkan semua aturan kearifan lokal yang ada. Larangan kontroleur Belanda terhadap acara Mangase Taon karena dianggap melanggar aturan agama Kristen adalah sebagai salah satu contoh padahal Mangase Taon adalah bagian tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kearifan lokal ladang pertanian disekitar Danau Toba.

Penerapan kerifan lokal bidang pertanian sangat erat tujuannya dengan konservasi sumber daya alam adan keberlanjutan sistem pertanian yang telah diperkirakan para nenek moyang masyarakat sekitar Danau Toba. Tiadanya aturan-aturan dari kearifan lokal pertanian yang diberlakukan pada masa belakangan ini, secara nyata telah mengakibatkan : degradasi kesuburan tanah, kurangnya daya dukung lahan, penurunan hasil produksi alami dan kerentanan terhadap serangan hama. Hal ini juga memberi efek hilangnya plasma nuftah tanaman lokal, tiadanya persediaan bibit tanaman dan yang paling utama adalah kesulitan dalam pengaturan air atau irigasi.

Seandainya semua kearifan lokan dan aturan-aturannya itu diberlakukan kembali dengan cara dimodifikasi seperti bagian acara ritualnya, disesuaikan dengan aturan  agama yang dianut oleh masyarakat di sekitar Danau Toba, maka diharapkan kasulitan-kesulitan yang timbul dari permasalahan-permasalahan tersebut diatas dapat diatasi.

4) Lahan Bersama dan Ternak Keluarga

Dahulu, lahan kosong dan hutan milik bersama antara anggota masyarakat desa ataupun bius. Pemanfaatannyapun bukan individual tetapi komunal. Bila seseorang ingin memanfaatkan hasil hutan berupa batang pohon ataupun ingin mengusahakan lahan kosong untuk pertanian atau mendirikan rumah, maka dia harus meminta persetujuan lebih dahulu melalui Raja Huta.

Memelihara ternak besar seperti kerbau dan sapi tidak dilakukan secara individual- parasial tetapi dilakukan secara bersama-sama. Keadaan seperti itu membuat adanya sekumpulan ternak yang dipelihara bebas di padang penggembalaan ataupun di pinggiran hutan. Kepemilikan ternak itu tidak hanya satu orang tetapi beberapa keluarga, pada desa atau bius yang sama. Model seperti ini masih dijumpai sampai tahun 1967 di Desa Sibuntuon, Balige. Sampai sekarang bentuk pemeliharaan sperti itu masih terdapat di Desa Sihotang, Samosir. Kearifan lokal tentang lahan bersama dan ternak keluarga ini dibuat oleh masyarakat terdahulu sebagai antisipasi terhadap akibat negatif dari : perebutan lahan dan eksploitasi berlebihan terhadap hasil hutan, yang sangat mungkin terjadi bila pengelolaannya dilakukan secara individual. Nenek moyang suku Batak di sekitar Danau Toba sudah memikirkan bahwa hutan bisa habis dan lahan kosong tidak akan diusahakan apabila pola pengelolaannya secara individual. Selanjutnya bila hutan telah habis, maka daerah tangkapan air tidak dapat berfungsi dengan baik.

Nenek moyang suku Batak juga menyadari bahwa dengan peternakan individual, maka areal yang tersedia tidak akan mampu menyediakan hijauan yang cukup untuk pakan ternak, bila dibagi atas (pegunungan) tidak ada hutan sebagai penangkap dan penyedia air yang cukup dan continue, untuk areal padang penggembalaan di bagian bawahnya.

Tiadanya kearifan lokal tersebut pada masa sekarang ini secara nyata mengakibatkan : hilangnya hutan tanah gundul, berkurangnya populasi dan produksi ternak, timbulanya perkara perebutan lahan yang tidak berkesudahan, serta pembakaran lahan yang timbul setiap musim kemarau. Penerapan kembali kerifan lokal ini dapat dilakukan dengan : penanaman bambu ripe-ripe (keluarga), pemeliharaan rumput pakan ternak dan leguminosa ripe-ripe pemeliharaan ternak rip-ripe pada lahan ulayat atau lahan kosong.

5) Tata Guna Lahan

Karifan lokal tentang hutan dan lahan kosong sangat berkaitan erat dengan tataguna lahan. Kaitan yang sangat nyata adalah pengaturan distribusi air yang berasal dari mata air di hutan pengunungan ke daerah persawahan dibawahnya. Pelaksanaannya dikoordinasi oleh Raja Bondar.

Menyadari kondisi areal dari suatu bius seperti kesuburan lahan, topografi dan kemampuan menahan air, maka masyarakat disekitarnya telah menerapkan aturan tataguna lahan yang dinilai sangat baik. Area persawahan ditampatkan pada lahan produktif, dengan kemungkinan memperoleh aliran air permukaan yang besar. Perkampungan ditempatkan pada area yang strategis, tetapi merupakan lahan tidak produktif serta memiliki kemungkinan memperoleh aliran air permukaan yang sangat minim.

Penempatan perkampungan selalu pemufakatan bersama dengan tujuan yang sama yaitu mengharapkan multi fungsi dari kampung, yaitu : kampung sebagai benteng, kampung sebagai area komunikasi, kampung sebagai tempat lumbung desa dan penyimpanan bibit tanaman ; kampung sebagai tempat pengandangan dan penangkaran kerbau, babi, ayam; dan kampung sebagai gambaran keeratan keluarga. Bila pola pikir dari kearifan lokal masih mungkin diterapkan pada masa sekarang ini termasuk kaitannya dengan kebersamaan dalam pengelolaan hutan, lahan kosong serta pengaturan air irigasi, maka atas masalah peternakan dan pertanian akan dapat lebih diperkecil, demikian juga dengan perkara perebutan lahan.

BAB III

PENUTUP

Danau Toba memang harus diberi perhatian lebih agar tidak menjadi semakin kritis. Danau Toba kritis akibat dari akumulasi limbah, maraknya keramba apung, tiadanya hutan, air keluar lebih besar dari air masuk, pantai tanpa tata ruang bahkan dijadikan sebagai ”Toilet Raksasa” oleh sebagian masyarakat. Kearifan lokal yang diterapkan dahulu oleh masyarakat di sekeliling Danau Toba sangat berhubungan erat dengan konservasi lingkungan pada ekosistem Danau Toba seperti : Kearifan Lokal Penangkapan Ikan dan Tanaman Pangan, Lahan Bersama dan Ternak Keluarga serta Tata Guna Lahan. Penerapan kearifan lokal tersebut diharapkan mampu mengatasi segala permasalahan-permasalahan pada ekosistem Danau Toba mulai dari sekarang atau bahkan untuk selama-lamanya.

Clean up the LAKE,

Green up the LAND!

Sihotang, Bonar. Agustus 2009. Saatnya Melestarikan Danau Toba. Barita Batak, Edisi 25, Depok.

Silaban, Charly. 23 Juni 2009. save lake toba community. Pemanfaaan Kearifan Lokal dalam Penanganan Ekosistem Danau Toba. http://www.google.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s