Transparansi Cinta Heidegger


Oleh John Ferry Sihotang

Layaknya kematian, kita terlempar begitu saja dengan suasana hati di pangkuan ruang dan waktu. Bisa jadi hanya improvisasi penjinakan dari proses evolusi kosmik nir-kesadaran. Kau melihatku lebih dulu, namun aku yang menangkapmu sebagai ada-tanda. Aku pun mulai mendekat dalam jauhnya perbedaan diantara kita. Namun kita justru mencandranya sebagai keunikan. Kontak ada perlahan berada dalam persahabatan: sebagai “pasangan jiwa masalalu” yang prareflektif dan praverbal dalam peta-psike kau-Freudian dan aku yang Jungian. Memang, keterlemparan yang menjadi kecemasan selalu mengembalikan kita pada kerinduan.

(anak manusia tak pernah jera untuk kembali jatuh dalam kecemasan keseharian: jatuh cinta!)

Kita bak sepasang sejoli di panggung telenovela eksistensi. Kau – protagonis Yunani Latin – begitu lihai merangkai kata dengan bernyanyi, menari, dan berpuisi. Dan aku – antagonis Batak Jerman – lebih suka memenjara kata dengan memaksa, menyiksa, hingga berteriak. Namun, indra dan rasa kita tak bisa lari ke lain hati. Perlahan aku menikmati puisi. Dan kau mulai berselancar dalam tegangan pembongkaran kebenaran dalam estetika filosofi. Juga belajar menerima para sahabatku Dasein, Mit-dasein, Zuhandenes dan Vorhandenes yang kukagumi. Dalam kesengajaan pula, kita bertemu pada aksioma kesepakatan: awalnya karena merasa, lalu kita berada, cinta pun terdapat.

(sejoli menala senar gerak hati dalam suasana, berbunyi: bagaimana cinta ada dan menjadi)

“Apa sih an sich dan für sich?”, tanyamu suatu hari. Aku bukan tak suka pada Hegel – yang sepertinya memihak shakespeare, si penista nama tak berarti. Tapi namanya kurang bertekun pada konsonan. Aku lebih suka mebicarakan Schiller dan Nietzsche. Walalu kesulitan dalam mengeja, namun karya-karya mereka bukan tak berarti. Malam itu, kelelahan pun menyata dalam diri kita bagai para nomad pemuja tubuh, petarung kapital, dan penjilat kekuasaan.

(duet jadi pilihan dalam harmoni vokal-konsonan: rede gerede re re de de ge ge rede gerede)

Perjumpaan itu di bulan november. Peristiwa ketersingkapan rokmu yang kau katakan otensitas keterbukaan hati. Penyingkapan itu justru berbalik menjadi penyembunyianku: mengambil jarak. Bisa saja aku ambil momen “ketersituasian” itu untuk sekedar menyesak sedikit napasmu. Bukankah ruang tak pernah lelah untuk mencumbu waktu? Seperti waktu, aku juga setia pada kau – ruang. Saat itulah kita berittihad pada kemewaktuan dan kemengadaan: menjadi satu kata di bibir Sang Ada.

(ruang kelambu riuh di waktu bulan madu, menekuni bahasa inggris: pendulum ‘yes’ dan ‘no’)

Borneo, 22 juni 2010

Sumber: “Being and Time”, Martin Heidegger; “Heidegger dan Mistik Keseharian – Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit”, Budi Hardiman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s