Tubuh dan Kekuasaan (Ariel-Luna-Tari)


Oleh John Ferry Sihotang

 Abad 20 – 21 (“abad Ariel-luna-tari”), tema tentang Tubuh – yang sebelumnya tak pernah dianggap serius, kini menjadi penting dan salah satu fokus utama perenungan filsafat kontemporer. Kerapkali tubuh hanya dilihat sebagai “benda” liar, gelap, namun bernilai jual. “Dijadikan” barang dagangan oleh para penguasa dan petarung kapital media massa, “dihakimi” sebagai masalah moral bangsa dan agama, dan “didisiplinkan” karena dianggap penyimpangan dan kegilaan.

Pandangan Mutakhir Tentang Tubuh

Kehidupan dalam semesta alam dan segala isinya – benda dan mahluk – adalah wujud kompleks yang tak mungkin bisa diurai secara pasti cara kerjanya masing-masing, hingga tampak kacau (chaos). Tubuh menjadi agen utama kemungkinan untuk menata kekacauan itu menjadi dimengerti dan tersusun rapi (kosmos), kata Friedrich Nietzsche. Dunia yang centang perenang itu, lewat tubuh (dicerap, dicium, diraba, diolah, dibuang dst.) menjadi tertata, terproses, lalu “dapat dimengerti”. Alam semesta itu juga adalah “tubuh raksasa”, tubuh kosmik dengan cara kerja dan organisasi rapi seperti tubuh kompleks kita.

Nietzsche memandang tubuh itu sebagai multiple intellegence, jaringan kesadaran yang rumit, yang kerjanya begitu ajaib dan brillian (seperti kerja mata, mulut, telinga dst.). Sejarah filsafat barat klasik dan modern terlalu berfokus pada rasio/kesadaran hingga menafikan peran tubuh. “Kesadaran” pun hanya salah diantara berbagai kecerdasan tubuh kita. Tubuh kerap dianggap sebagai wilayah yang liar, kacau, dan berbahaya, oleh karena itu mesti “didisiplinkan”. Bagi Nietzsche, ini tidak fair. Maka ia berfilsafat dengan metafor dalam bentuk aforisme (proses kehidupan disebut dengan “nutrisi”, persepsi sebagai “pencernaan”, pikiran sebagai proses vital – “biologis hidup”, dsb.).

Pun dalam fenomenologi persepsi Merleau-Ponty, manusia adalah “being-in-the-world”, berada dalam dunia lewat tubuhnya. Bahwa tubuh kitalah yang membuat kita menyadari bahwa kita berada di dunia. Tubuh kita tidak berdiri di luar kesadaran. Justru tubuh itu adalah kesadaran yang mewujud atau mengungkapkan diri dalam perilaku di dunia keseharian dan menjadi sarana mutlak memahami kenyataan.

Penghayatan Tubuh Kekinian

Michel Foucault memandang tubuh bukanlah sesuatu yang kodrati, alamiah, netral, tetap dan seragam. Makna sesungguhnya tentang “tubuh” adalah bagaimana kita menghayatinya. Bahwa pada dasarnya tubuh itu merupakan serangkaian hasil pembentukan berbagai ajaran, keyakinan, praktik kebiasaan, demi kepentingan kekuasaan-kekuasaan tertentu (tradisi, agama, politik, ekonomi, keilmuan dsb).

Tesis Foucoult itu masih relevan hingga kini. Karena “tubuh” tetaplah merupakan objek kontrol dan manipulasi demi eksperimen biomedis, kekuasaan politis atau pun untuk kepentingan ekonomi kapitalis.

Tubuh manusia memang tak pernah berhenti untuk dibentuk, dilatih, dan dimanipulasi. Pada zaman dulu, Sokrates melatih diri dengan tidur di atas salju untuk merefleksikan dan “merengkuh” nilai-nilai luhur ruhani seperti “meraih inti kemanusiaan bernalar tinggi”. Yesus, Sidharta dan para sufi melakukannya dengan bertapa (semadi) di tempat sunyi. Pada abad pertengahan, ada praktik puasa dan askese (menyiksa diri) untuk silih dosa. Sekarang ini, demi standard kesehatan dan kecantikan, tubuh manusia terus diawasi, dibentuk, diubah dengan segala penemuan mutakhir dunia sains, medis, dan bisnis. Diet ketat, fitness kilat, dan operasi plastik tanpa karat (alat kelamin, payudara, bibir dsb) adalah beberapa diantaranya. Demi membela nama Tuhan, tubuh pun rela dibawa bunuh diri sambil membawa tubuh-tubuh lain (praktik bom bunuh diri dan fenomena terorisme). Pula bagi mereka yang merasa mendapat wahyu Tuhan: melakukan bunuh diri massal (alasan “akhir jaman” beberapa sekte agama).

Penguasa seperti Hitler bersama paham fasisnya juga pernah mempolitisi tubuh. Dalam nanarnya kehendak untuk berkuasa, telah menodai sejarah “tubuh kemanusiaan” dengan keinginan “memusnahkan” suku bangsa Yahudi. Stalin, Polpot, Suharto dan para diktator lainnya juga “menertibkan” tubuh-tubuh yang melawan pada paham dan tirani kekuasaan dengan berbagai represi (pengekangan). Para musuh politik dan aktivis perubahan ditangkap, dipenjara, disiksa, dibunuh dan “dihilangkan”. Selama sejarah masih terbentang, peristiwa-peristiwa deperti ini akan terus berulang untuk alasan “kestabilan” politik bernegara.

Tubuh dijadikan juga sebagai komoditi, barang dagangan bernilai tinggi. Praktik lokalisasi pelacuran, jual-beli anak dan perempuan, sampai fenomena dangdut koplo (dangdut pengumbar birahi) tak lebih dari sekedar “menjual tubuh”. Para “petarung kapital persundalan” itu mengeksploitasi tubuh untuk kepentingan bisnis semata dengan semboyan: meraup untung yang sebesar-sebesarnya dan instan.

Sekilas Tentang Tubuh Ariel-luna-tari

Fenomen persetubuhan Ariel-luna-tari meriap dengan derasnya. Menuai kontroversi, pro dan kontra. Bukan saja di dalam negeri , namun sampai ke dunia luar. Menjadi pembicaraan utama di kantor-kantor, warung kopi, kampus-kampus, tempat ibadah, studio-studio televisi hingga gedung DPR dan Istana Negara. Dari anak bau kencur sampai orang tua di ujung umur. Dari rakyat pinggiran sampai politisi yang mengaku negarawan. Dari para pengamen sampai presiden. Dari kaum tak beragama sampai agamais yang merasa jenggotnya kebakaran. Semua tak mau ketinggalan. Ternyata gaung politik ekonomi bisa juga redup dalam bayang-banyang video per-se-tubuh-an”.

Tubuh-tubuh itu dijadikan objek dan komoditi demi kepentingan para penguasa dan pelaku media massa. Koran, tabloid, majalah, media online Internet sampai televisi semuanya mengeksploitasi tubuh (mirip) Ariel-luna-maya lewat berita dan tayangan gambar dan video pornonya. Terlepas dari kelalaian atau kesengajaan, kasus ini menjadi nyinyir. Video macam ini bukanlah yang pertama kali ada. Dari pelosok kalimantan sampai kota metropolitan, dari anak sekolahan sampai pejabat dewan banyak beredar video mesumnya. Namun tak pernah sampai pengusutan yang berlebihan, apalagi sampai “didisiplinkan” dengan undang-undang, penahanan dan ancaman penjara. “Disiplin dan Hukuman” ala Foucault kembali nyata. Kalau di jamannya, kaum pengangguranlah yang di penjara demi alasan produktivitas kerja. Kini, urusan ‘disiplin kelamin’ pun bisa masuk penjara.

Apakah suara mayoritas terhadap “video persetubuhan” ini selalu menjadi suara Tuhan? Para pemuja UU APP pun bergembira karena merasa tepuaskan dan aman untuk generasinya. Para politisi busuk merasa telah membuat sesuatu yang berharga dengan mengurusi insting purba manusia. Kaum munafik merasa berhasil karena sudah “membunuh” karakter dan karir mereka bertiga. Para agamis yang ‘suci’, ‘normal’ dan ‘bermoral’ mungkin sudah diliputi euforia, sebuah tanda kemenangan dari surga. Masyarakat telah “digiring” untuk kepentingan bendera kelompok lewat kuasa media. Ya, tak jarang absurditaslah yang terjadi bila politik kekuasaan ‘berselingkuh’ dengan dogma agama.

Sikap yang Benar?

Lemah dan dangkalnya individu adalah salah satu akar mendasar berbagai krisis di Indonesia , tulis Sugiharto. Ketidakmatangan individu ini menjadikan krisis identitas diri yang membabibuta mengutamakan bendera kelompok (termasuk agama dan partai), nyinyir memperkarakan formalitas harfiah berlebihan, dan memburu kekuasaan dengan cara apapun. Pula para politisi sibuk merayakan “permukaan” hingga persoalan substansial terabaikan. Kemunafikan pun jadi inheren dalam budaya berbangsa kita. Agama teralu diagungkan sebagai acuan tertinggi nilai dan moral bangsa, padahal acap melegitimasi kebobrokan nilai kemanusiaan. Masyarakat pun menjadi kumpulan mahluk harfiah, yang tak mampu lagi membedakan mana simbol mana substansi.

Semua itu bisa kita saksikan di media massa akhir-akhir ini. Melalui informasi media, masyarakat bisa mengetahui dunia luar dan permasalahan aktual. Tetapi, bila tidak jeli melihat fenomena, kita bisa jadi korban kepentingan kekuasaan. Bisa dimanfaatkan untuk menebar ketakutan dan hasutan (provokasi). Media massa itu bisa menjadi alat kontrol dan manipulasi para penguasa untuk menggiring opini publik. Sehingga publik bisa “dipermainkan” agar mengalami neurosis dengan standard “kenormalan” dan “kegilaan” terhadap perilaku tubuh.

Tanpa bermaksud mengafirmasi atau membenarkan tindakan Ariel-luna-tari: tak sepantasnya masyarakat, khususnya para politisi dan perangkat negara langsung menghakimi kemesuman itu. Mereka bukan membunuh kemanusiaan, bukan menggelapkan uang rakyat, bukan merusak lingkungan juka bukan menindas kaum lemah. Mengapa bukan pengedarnya yang pertama diseriuskan? Para ulama dan pemimpin agama juga tak seharusnya merasa kebakaran jenggot karena ada “dombanya” yang hilang. Bukankah semua agama mengenal pertobatan? Memang sudah sakit bangsa ini, cara berpikir dan cara pandang masyarakat digiring tumpul oleh penguasa.

Lewat pedagogi atau filosofi pendidikan dan kebudayaan yang baik bisa jadi salah satu “jalan keluar”: membongkar kebekuan paradigma lama yang sudah usang, memperluas khazanah cara memandang dan menghayati sesuatu (worldview) dan menarik kita untuk berpikir lebih dalam (mindset). Bukan ‘aurat tubuh’ yang perlu ditutupi dengan berbagai cara, tapi paradigma berpikir dan cara memandang permasalahanlah yang perlu dibuka, bila perlu ditelanjangi.***

Borneo, 23 Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s