Mengosongkan Kolom Agama Pada KTP


Salam Rahayu,

Hampir semua penghayat kepercayaan KTP nya pada kolom agama tertulis agama
tertentu ( Islam, Katolik, Hindu, Budha, Kristen ), hal ini disebabkan
karena pemerintah pada masa itu ( Orde Baru) tidak mengakomodasi identitas
penghayat kepercayaan pada KTP dan dokumen kependudukan lainnya. Penghayat
kepercayaan sadar betul mengisi agama tertentu hanya sekedar dari pada
mendapat kesulitan dalam berurusan dengan instansi pemerintah untuk
mandapatkan hak haknya sebagai rakyat Indonesia.
Penderitaan penghayat kepercayaan tersebut diatas sudah berlangsung
puluhan tahun bahkan ada yang sejak lahir sampai meninggal.
Tentu saja lebih menderita lagi bagi penghayat kepercayaan yang idealis
tidak mau dipaksa munafik mencantumkan salah satu dari lima agama
tersebut, karena dianggap bukan rakyat Indonesia walaupun lahir di
Indonesia dan nenek moyangnya juga asli Indonesia.

Berkat perjuangan terus menerus pantang menyerah oleh para tokoh penghayat
kepercayaan dan makin membaiknya pemahaman HAM para pemimpin negeri ini,
hak hak sipil penghayat kepercayaan sedikit mulai diakui dengan keluarnya
Undang Undang RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan
yang mengakomodasi penghayat kepercayaan.
Khusus pengisian kolom agama/kepercayaan pada KTP bagi Penduduk yang
agamanya belum diakui atau bagi penghayat kepercayaan kolom tsb
dikosongkan ( tidak diisi agama tertentu), tercantum pada BAB I, Pasal 64,
ayat 2.
Pelaksanaannya di daerah kolom tersebut ada yang dikosongka, ada yang
ditulis lain-lain, tetapi juga ada yang ditulis kepercayaan, tetapi ada
juga pemerintah daerah yang ketinggalan informasi sehingga mempersulit
penghayat yang hendak mengganti kolom agama pada KTP nya.

Khusus Persyaratan dan Tata Cara Pencatatan Perkawinan Bagi Penghayat
Kepercayaan tercantum pada Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007, BAB
X, Pasal 81, Ayat 1, 2, 3.

Pertanyaannya bagi penghayat kepercayaan beranikah penghayat kepercayaan
mengosongkan kolom agama pada KTP nya, sesuai UU RI Nomor 23 Tahun 2006,
BAB I, Pasal 64, Ayat 2 tsb ?
Penghayat kepercayaan sejati tentu saja tidak mau munafik setelah tidak
dipaksa munafik, Penghayat kepercayaan sejati tentu saja berterimakasih
dengan hak sipil yang sudah diberikan walaupun masih ada diskriminasi.
Mengosongkan kolom agama pada KTP adalah bagian dari kelanjutan perjuangan
penghayat kepercayaan.
Pertanyaan terakhir : Apakah anda termasuk pejuang penghayat kepercayaan?

Oleh sebab itu saya mengajak seluruh penghayat kepercayaan untuk mengurus
mengosongkan kolom agama pada KTP nya di kelurahan masing masing,
sekaligus membuktikan apakah pemerintah konsisten dengan Undang Undang
yang sudah dikeluarkannya. Seberapa jauh pemerintah mensosialisasikan
Undang Undang Adminduk? Seberapa jauh pemerintah daerah patuh kepada
pemerintah pusat? Seberapa besar perhatian dan pelayanan pemerintah daerah
melayani rakyatnya?
Sekian dahulu, selamat berjuang.

Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

Rahayu
Suprih Suhartono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s