“ GONDANG BATAK DAHULU DAN KINI ”


Oleh JEFFAR LUMBAN GAOL

Gondang Bolon /Gondang Sabangunan 

Menurut catatan beberapa peneliti berkebangsaan asing , yang melakukan penelitian  

Terhadap musik Gondang Batak , diantaranya Prof Paul Simon dari Museum DARLEM

Berlin dan Reiner Carla dari seminar Indonesia Hamburg Universitas , menyatakan besar kemungkinannya , bahwa ; Gondang Batak yang ditemukan sampai saat tibanya misi Zending Rhein Mission Comission (RMC) thn 1861.Yang lebih populer dengan sosok NOMENSEN tersebut , sudah menyerap pengaruh budaya dari dataran Asia lainnya , yaitu Hindustan dan Tiongkok .

 Hal ini menjadi jelas dengan ditemukannya Ogung (Gong) yang mewakili peradaban logam .Penemuan itu tentu mengundang tanya , Bagaimana Suku Batak yang dianggap sebagai suku yang termasuk dalam klasifikasi Megalitik , namun menerima logam (Gong) menjadi bagian integral dalam tabuhan Gondang , sebagai instrumen yang sangat penting dalam upacara Ritualnya ? tentu saja saat itu pandai besi dan peralatan yang terbuat dari logam , seperti tombak , piso (pisau) dll , sudah ada . Akan tetapi Ogung , (gong) sebagai instrument memang identik dengan Hindustan/ Hindu , Tiongkok /Budha , sebagaimana halnya yang terjadi pada Ihailand , Laos , juga Kamboja , dan masih dapat kita lihat hingga saat ini .

 Menurut tutur turun-temurun , beberapa keluarga yang masih menyimpan benda-benda pusaka , yang juga diantaranya adalah Ogung atau Gong tersebut , mereka mengatakan bahwa Gong-gong itu , oleh moyangnya didapatkan secara barter dengan para saudagar-saudagar Tiongkok .

Pada masa itu , saudagar-saudagar asal Tiongkok/Hindustan ini biasanya menawar- kan : garam , keramik , obat-obatan dan juga Gong sebagai alat barternya . Mereka umumnya , langsung menuju Barus melalui pantai barat , dimana pada saat itu , Pancur na Pitu sebagai pelabuhan Barus , sangat ramai dikunjungi oleh kapal-kapal saudagar asing , untuk mendapatkan kapur barus dan kemenyan .

Tak jarang saudagar-saudagar tersebut menempuh perjalanan dari Pantai Timur , melintas tanah Melayu Deli , mendaki ke tanah Karo , singgah ke Tongging menuju Dairi , sampai Sumbul Sallam , berbelok ke kiri , akhirnya sampailah ke Barus . Ogung hasil barter dikala itu , sangat sesuai dengan kebutuhan suku bangsa Batak , sebagai ( suku yang mengisolasikan diri dari pengaruh peradaban pantai ),splanded isolation . Sangat membu- butuhkan alat pemersatu bius marga yang begitu banyak , juga sebagai ekspresi pengaktualisasi diri atas persentuhannya dengan dunia luar , dalam hal ini , kebudayaan Hindu . Sisa-sisa dari peninggalan kebudayaan Hindu itu sampai sekarang masih dapat kita temukan di daerah Barus berupa candi dan batu menhir .

Jadi dapatlah kita bayangkan , peran dan kehadiran gong dalam kebudayaan Batak , amatlah penting . Sampai – sampai kemudian melahirkan ungkapan , “Molo Ogung dohot Sarune nunga makkuling , asa undur hita rap marsada , asa sada rohanta laho pature ulaon Nabolon “ yang kalau diterjemahkan kira-kira mempunyai arti “Kalau Gong dan Sarune sudah berbunyi , biarlah kita bersiap-siap bersatu , menyatukan hati kita untuk pekerjaan besar” .

Menilik hal tersebut , menunjukkan bahwa ,“Gondang Bolon atau biasa juga disebut Gondang Sabangunan , memang menjadi sangat erat paranannya , bagi kehidupan ritual dan budaya di Tanah Batak pada periode itu .

Bisa dikatakan , Gondang Bolon , menjadi denyut jantung , nadi dan nafas , bagi orang Batak yang mengadakan berbagai macam upacara seperti :

Horja bius (upacara penolak bala bencana , memohon pasu-pasu Debata/(berkah)

Mangokkal holi-holi/saring-saring(mengangkat tulang belulang nenek moyang)

Sari Matua/Saur Matua (wafat namun sudah punya keturunan cucu atau buyut/ cicit)

Upacara mohon kesuburan atau panen raya .

Dan bahkan yang paling ditolak Gereja , yakni penghantar mantra-mantra untuk memanggil arwah-arwah para leluhur . Gereja menolaknya , berdasarkan efek trans/(siar-siaran/kesurupan)yang ditimbulkan oleh Gondang itu .

Mengikuti upacara-upacara yang sudah dikemukakan diatas tadi , dan hadir tengah-tengah arena , dimana ensambel Gondang tersebut memainkan tujuh repertoarnya

yang sudah menjadi klasik itu , memang akan membawa kita , pada efek medidatif yang mempenaruhi denyut jantung , serta kesadaran kita . Ketujuh nama-nama dari Gondang tersebut adalah :

-Gondang Mula-mula .

Gondang pembuka yang menyiratkan awal mula turunnya Debata

Mula jadi na Bolon di Pusuk buhit

-Gondang Somba-somba .

Sujud kepada Raja-raja bius dan Leluhur

-Gondang Liat-liat .

melihat tanda-tanda alam

-Gondang Simonang-monang

Sebagai bentuk pamujaan kepada Batara Guru atau Debata Sori .

-Gondang Parsadaan .

Sebagai simbol persatuan .

-Gondang Hasahatan .

Yang bermakna , sampainya upacara adat pada penghujung acara , dimana kesepakatan

adat sudah tercapai dan terpenuhi .

-Gondang Sitio-tio .

Gondang yang menutup upacara , dengan harapan , semua anggota keluarga mendapat kecerahan dan dijauhkan dari mara (bencana = halangan)

Teriakan dan igauan orang yang trans atau dalam bahasa batak disebut siar-siaran (kerasukan)roh-roh para moyang , dari anggota keluarga yang sedang mengadakan upacara ,akan menambah kita larut mengembara pada bunyi sebagai ritual purba dan dalam irama repetitip (pengulangan) ,dibuka oleh atmosfir dari gaung Gong , yang berjumlah empat buah , yaitu oal , Ihutan , Odap dan Panggora ;

alat musik ini ditabuh dengan tehnik saling mengunci(inter-lock) .Ditambah dengan Taganing ; gendang dengan tabung kayu , berjumlah enam tabung dengan membrane kulit , masing-masing dengan nada yang berbeda , berfungsi sebagai penyelaras melodi , sekaligus memberikan aksentuasi beat , menjaga tempo dan irama .

Baru kemudian Sarune bolon dibunyikan (Sarune adalah instrument tiup kayu dengan rit yang terbuat dari bambu dengan pengikatnya sehelai benang tipis ), yang range intervalnya empat tone (nada) menyusul hasapi (kecapi berdawai dua ) ; alat musik yang dipetik , menghasilkan nada-nada tinggi ,

Dikemudian hari seruling dari bambu menyempurnakan ensambel Gondang Batak tsb , memang karena intrumen bambu ini , baru belakangan dimasukkan menjadi bagian dari instrumen Gondang (hasapi), namun mampu menghasilkan interval sampai tujuh nada .

Meskipun pada thn 1847 , Jung Hun . Seorang Antropolog berkebangsaan Jerman , menyatakan bahwa ; suku Batak masih dianggap suku yang mengasingkan diri dan Danau Toba hanyalah dugaan belaka , ini disebabkan karena Jung Hun memang hanya sampai Lintong , dekat benteng Bahal batu (Tangga batu / humbang saja , kebetulan Sisingamangaraja X sedang berkunjung kesitu . Jung Hun tidak pernah sampai ke Bakkara dan melihat Danau Toba . Namun temuanan para missionaris RMC thn 1861 tadi , tentu menyatakan fakta yang bertolak belakang . Saat itu suku bangsa Batak sudah mempunyai kerajaan tersendiri , yakni SISINGAMARAJA . Dan yang berkuasa saat missi itu tiba , adalah Dinasti ke XII , Raja yang berkuasa dengan kharisma Relegiusitasnya yang berintikan pada Habatakhon (budaya batak) . Dia juga menjadi guru sekaligus sebagai inspirator dan pelindung atas keberadaan Gondang Bolon itu dalam kehidupan budaya Batak .

Walaupun antara temuan Jung Hun dan Missi RMC mempunyai perbedaan rentang waktu kurang dari 15thn , apakah masuk akal bahwa Dinasti ke XII tersebut dibangun hanya dengan kurun waktu15thn? .

Namun sayang , perang etnis Batak yang di pimpin oleh SISINGMANGARAJA XII melawan Marsose ; tentara VOC Belanda , berakhir tragis , karena ; Raja.SISINGAMANGARAJA XII dinyatakan tewas bersama putrinya Siboru Lopian di Dairi thn 1907 .

Kekalahan tersebut sangat besar pengaruhnya bagi sendi kehidupan budaya suku bangsa Batak . Namun perlahan-lahan orang Batak , mulai mengenakan jubah baru , menerima kekalahan dan datangnya peradaban baru , agama baru juga modernisme .

Disisi lain rakyat di Dairi , masih membangun perlawanan Sigudamdam , meskipun sudah di larang keras oleh tentera pendudukan Belanda , Gondang masih terus saja dita – buh , walaupun harus dengan cara sembunyi sembunyi , menghindar dari komunitas Gereja , dan mata-mata Belanda .

(Sekarang ini , meskipun Belanda sudah hengkang , kebudayaan dan upacara itu masih dapat kita temui , yakni dalam komunitas Parmalim/Parbaringin meski tidak mau dikaitkan dengan Sigudamdam lagi , namun dapatlah kita lihat keberadaannya di Huta Tinggi Laguboti , dipimpin oleh Raja Mulia Naipospos .)

Seiring dengan masuknya modernitas ke tanah Batak , dan diilhami Stambul(teater rakyat) di tanah Deli . Thn 1928 lahirlah Opera Batak pertama dimana saat itu , pemain/aktornya semua laki-laki , hal ini tak berlangsung lama , menyusul lahirnya kelompok-kelompok Opera Batak lainnya , yang melibatkan gadis-gadis belia , dan juga menjadi daya tarik tersendiri , bagi anak-anak muda kala itu . Tesebutlah Grup-grup , seperti ;

– SERADA seni ragam daerah .

– ROPEDA rombongan penghibur daerah .

– ROMPEMAS rombongan penghibur masyarakat .

– SERINDO seni ragam Indonesia .

Semua grup Opera Batak umumnya menggunakan Gondang Hasapi atau uning-uningan .

Perbedaan atara Gondang Bolon dan Gondang Hasapi , adalah dalam menggunakan instrumen Gong dan Sarune . Dalam Gondang Hasapi , sarune yang dipakai adalah instrument sarune na metmet (kecil) dengan nada yang lebih tinggi dan tajam , penggunaan suling lebih maksimal dan jumlah Ogungnya (Gong) lebih sedikit .

Tumbuhnya opera batak ini , bak melepas kerinduan akan identitas orang Batak , as-linnya , yang terpendam selama dua puluh tahun lebih , terhitung sejak 1907 . hal ini menjadi , salah satu faktor yang menyebabkan sambutan yang begitu luas dan hangat , dari seluruh lapisan suku bangsa Batak . Karena Opera Batak , biasanya di hari penutupan pada tour kelilingnya , selalu memainkan repertoarnya yang paling di tunggu-tunggu di belahan tanah Batak manapun mereka berpentas , dengan judul :

“AHU SISINGAMANG SISINGAMANGARAJA” .

Sebuah fakta yang juga tak kalah menarik untuk dicatat adalah Gondang pengiring untuk mengiringi pementasan itu , adalah Gondang Sabangunan/Bolon . Jelas terlihat sebuah kesadaran akan ingatan kolektif dari sebuah suku , yang kehilangan atas Raja dan budaya luhurnya .

Hal ini pastilah bukan sebuah kebetulan , meskipun Gondang Sabangunan/Bolon lazimnya dipergunakan untuk upacara adat , dan sebagai Bapak dan pelopor opera Batak ; Tilhang Gultom , justru dengan sadar menaruh upacara tersebut , menjadi bagian dari panggung pertunjukkan teater rakyat . Sebuah langkah yang cerdik !

Gordang di Tapanuli selatan ;

Gordang dan Ogung menjadi bahagian penting dari upacara Gajah lumpat di dolok Pamelean .

Raja Palti Siregar , yang berkuasa di Sipirok seperti menemukan jalan keluar dari dua masalah pelik , yakni masalah perang saudara yang sering muncul di Sipirok , serta keinginannya untuk menemukan semacam pusat ritus seperti di pusuk buhit yang terus mereka kenang , dalam migrasinya di Sipirok . Untuk itu diadakanlah Upacara Gajah lumpat yang memang efektif , meredakan perang saudara . Gajah-gajah itu didatangkan berikut pawangnya Sikh Hindu yang saat itu sudah mempunyai penangkaran gajah dan menetap di sekitar Air Bangis /Batang toru . Hal itu masih berlangsung , sampai saat datangnya tentara Pidori (Padri ) thn 1816 .

Maka di wilayah Tapanuli selatan , sejak thn 1816 Gordang mengalami pengurangan instrument musiknya . Hal ini menjadi masuk akal , karena sejak kekalahan SISINGAMANGARAJA ke X , atas serangan Tuanku Rao (Padri) yang konon katanya sampai ke Bakkara , dan menghancurkan Istana dari Dinasti SISINGAMANGARAJA , serta kehancuran yang luar biasa , pada martabat yang namanya manusia Batak , sehingga

Orang-orang tua , tak lagi mampu menceritakan hal ini sebagai turi-turian (tutur) karena Aib dan derita yang tak mungkin diwariskan kepada generasi penerus , yang sangat rentan dan berpotensi mendatangkan petaka dendam sebagai lingkaran setan seperti yang diinginkan oleh fihak Belanda (konflik adu domba)

Walaupun sebenarnya sejak migrasi gelombang kedua , marga-marga dari utara ke Tapanuli Selatan , kewibawaan SISINGAMANGAJA X di Tapanuli selatan , sudah berkurang . Hal ini bermula dari persoalan-persoalan yang mengakibatkan migrasinya ke selatan itu , terus diingat-ingatkan kepada keturunannya , yang pada akhirnya menyimpan api dalam sekam . Tak pelak lagi kekalahan tersebut , menyebabkan orang-orang Batak di bagian selatan Tapanuli tidak ragu lagi , untuk menerima muslim sebagai jalan hidup baru . Maka dianggap perlu untuk meninggalkan tata cara yang menyangkut kebudayaan lama dan dianggap kafir , dan dalam hal ini , tentu saja Gondangpun tak luput dari koreksi . Maka menjelmalah Gordang Sambilan yang menyerupai , Bedug-bedug yang panjang-panjang , yang berdiameter 70cm s/d 110cm , dengan jumlah sembilan buah . Biasanya Gordang Sambilan lebih banyak dipergunakan untuk keperluan panen raya , Kenduri , Maulid Nabi SAW, bulan Ramadhan dan Takbir .

Disamping itu juga telah ditemukan Gordang tano (tanah) yang digali dan di beri dawai sebagai , alat resonator yang kemudian dipantulkan oleh gema/gelombang dari tanah yang digali tadi . Gordang tano diketemukan dan direkonstrusikan kembali (thn 1980an) Oleh Rizaldi Siagian beserta mahasiswa Etnomusicologi USU diantaranya Irwansyah Harahap .

Di tanah Karo , Gordang terbuat dari , bambu yang cukup besar , bahkan ada yang hampir menyamai ukuran paha manusia . Dengan melubangi bambu searah dengan ruasnya dan menyisakan kulit bambu saja , maka kulit bambu tersebut akan berfungsi sebagai resonator , jika dipukul akan menghasilkan bunyi yang unik , dengan modal nada yang hampir menyerupai pelog dalam Jawa dan Bali .

Biasanya Gordang bambu tersebut di tanah Karo digabung dengan Gong dan serunai untuk upacara , Tari Enggang , juga untuk upacara penguburan dan tolak bala , akhirnya sampai saat ini , lebih dikenal sebagai pengiring keteng-keteng saja (tarian muda mudi) , yang didominasi oleh masuknya unsur keyboard dan terkesan murah meriah .

Disamping itu missi zending dan kedekatan geografis Karo dengan Melayu Deli di timur dan Aceh Gayo di utara , tentu saja selanjutnya juga , sangat mempengaruhi budaya Karo itu sendiri .

Catatan pena

Tulisan ini diharapkan untuk menggugah serta mempertimbangkan kembali , keberadaan dari Gondang itu , yang nyatanya tidak lagi penting dan dianggap ketinggalan zaman , dengan hadirnya seni-seni hiburan dan agama baru , sebagai pilihan baru pula .

Ketekunan beragama bagi orang Batak baik itu Muslim , maupun Kristen memang sesuatu yang tak dapat di tawar lagi , itu pasti , dan dalam hal ini Agama memang bukan jadi persoalan utama , sebab apa yang di tolak agama seperti upacara-upacara pengorbanan manusia dan mantra-mantra pemanggilan arwah roh leluhur , sudah pasti ditolak oleh manusia modern yang menggunakan akal sehat , serta menghormati Hak Azasi Manusia . Yang menjadi persoalan adalah , bagaimana mempresentasikannya kini , agar Gondang dapat mewakili ekspresi orang batak dan menjadi identitasnya , baik yang tua atau muda , dari utara atau selatan , itu bukanlah hal penting , karena Batak adalah satu root (akar) , yakni Dalihan na Tolu . Memang beberapa pemuka adat sekarang ini mulai menyadari ada kesalahan dimasa lalu yang terus menerus di gerus zaman , tapi tidak pernah tau , dari mana untuk memulainya . Penelitian untuk merangkum seluruh proses evolusi Gondang dan Musikalitas suku bangsa Batak adalah sesuatu yang sangatlah diperlukan saat ini . Dimulai dari Tilhang Gultom , bersama Opera SERINDOnya , yang bermigrasi ke pulau Jawa , juga akan menimbulkan pertanyaan yakni; apakah yang menjadi motivasi utama dari migrasi tersebut ? . Disisi lain , kreativitas Bonar Gultom dalam Opera ARGA DO BONA NI PINASA , yang menggemparkan pada thn 1969an itu , karena dianggap mewakili kaum terpelajar dan kelas menengah dari suku bangsa Batak , yang merindukan kampung halamannya nan permai dan damai , meskipun tidak lagi digarap dalam bentuk ensambel Gondang hasapi , sebagaimana yang dilakukan grup-grup Opera seangkatan SERINDO , tetaplah hal tersebut menjadi sebuah kreatifitas yang belum tertandingi , oleh generasi baru yang mengenyam dan dibesarkan oleh pendidikan ala barat itu . Bahkan Etnomusikologi USU belum juga melahirkan musisi Batak sekelas Sarikawan Sitohang , Tarsan Simamora , Saefudin Simbolon , Mangasa Naibaho , Marsius Sitohang , dkknya yang jumlahnya tidak sampai puluhan orang lagi itu . Mereka semua dibesarkan oleh Opera Batak dan menguasai instrument yang paling berat seperti sarune (besar /kecil) , hasapi , juga Taganing (gendang Batak) dengan baik . Kini nasib dari Gondang serta seniman – senimannya , yang berhadapan langsung dengan moderenisme yang mencerabut kita dari akar budaya leluhur, tanpa sempat kita menyadari bahwa ada yang hilang dalam diri kita , dan kita semakin terasing dengan kenyataan itu . Sebab industri musik justru lebih banyak menawarkan kepalsuan realita hidup , yang mengatas namakan selera pasar dan modernitas , telah membuat orang Batak kehilangan wacana dan identitasnya .Horrasss ! Menjuah-juah !

( Jeffar Lumban Gaol )

penulis adalah pemusik

tinggal di jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s