2014, Pemerintah Tambah 2,2 Juta Kursi di Perguruan Tinggi


BERSAMA CIVITAS : Wakil Menteri Pendidikan Prof Dr Fasli Jalala setelah diulosi pihak yayasan Universitas Sisingamangaraja XII foto bersama dengan para civitas akademika, antara lain Ketua BPH Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli GM Panggabean BBA, Rektor US XII Prof Ir MPL Tobing, Rektor Unita Ir P Parapat MSi, Wakil Rektor Unita Ir Adriani Siahaan MP dan para dosen, Senin (2/8) di Universitas Sisingamangaraja XII Medan. Turut mendampingi Wakil Menteri anggota DPD RI Parlindungan Purba SH, Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut/NAD Prof Dr Zainuddin dan Kadis Pendidikan Sumut Drs Bahrumsyah. (Foto SIB/Jhon Manalu)

Ceramah Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Fasli Jalal di Universitas Sisingamangaraja XII

* 13 Juta Anak Usia Sekolah Menengah Pertama Tengah Diperjuangkan Bisa Sekolah Semua
* Setiap Tahun Pemerintah Memberikan 8.500 Beasiswa Untuk Program Doktor
* Belajar di Zaman Ini Tidak Bisa Lagi Hanya Mengandalkan Kurikulum, Akan Tetapi Harus Initiatif dan Inovatif
* Tidak Hanya Mahasiswa Yang Harus Berinovasi, Para Pimpinan PT dan Dosen Pun Jangan Mengungkung Mahasiswa Dengan Kurikulum
* Wakil Menteri Diknas Prof Dr Fasli Jalal Doakan Pak GM Cepat Sembuh dan Kembali ke Medan

(Laporan Donna Hutagalung dan Eddy Bukit)

Medan (SIB)
Universitas Sisingamangaraja XII Medan sungguh mendapat kehormatan besar. Senin (2/8/2010), Wakil Menteri Pendidikan Nasional RI Prof Dr Fasli Jalal, mengunjungi kampus yang didirikan oleh DR GM Panggabean itu usai membuka Olimpiade Sains Nasional IX di Lapangan Merdeka Medan, untuk bertatap muka dengan fungsionaris civitas akademika dan mahasiswa.
Prof Dr Fasli Jalal yang datang bersama anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Sumatera Utara Parlindungan Purba SH, Kopertis Wilayah I Sumut-NAD Prof Dr Zainuddin MPd, Kepala Dinas Pendidikan Sumut Drs Bahrumsyah MM, disambut dengan adat Batak.
Begitu menjejakkan kakinya di gerbang Kampus Sisingamangaraja (US XII) di Jalan Perintis Kemerdekaan, Fasli Jalal dikalungi untaian bunga selamat datang oleh mahasiswi US XII, Melisa. Melangkah ke pintu masuk, Fasli Jalal disambut para pengurus Yayasan dan Civitas Akademika Sisingamangaraja XII yakni, GM Immanuel Panggabean BBA, Rooslynda Br Marpaung, yang juga anggota DPRD Sumut, Rektor US XII Prof MPL Tobing dan Rektor Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (Unita) Ir P Parapat MSi dan unsur pimpinan STMIK Sisingamangaraja XII. Ketua STMIK Sisingamangaraja XII Dr Poltak Sihombing MKom berhalangan hadir, karena sedang berada di Malaysia.
Pada kesempatan ini, Prof MPL Tobing menaburkan boras sipir ni tondi ke atas kepala Fasli Jalal diiringi Tortor Batak. Dalam adat Batak Toba, ini adalah penghormatan untuk tamu terhormat. Selanjutnya, Fasli Jalal bersama rombongan menuju aula kampus di lantai III dan bertemu dengan ratusan mahasiswa, dosen serta guru dan siswa SMP, SMK dan SMA mitra FKIP Unita untuk bertatap muka dan menyampaikan ceramah ilmiah.
Mengawali ceramahnya, Fasli Jalal mendoakan Ketua Umum Yayasan Kelompok Penyelenggara Pendidikan Sisingamangaraja XII DR GM Panggabean yang saat ini sedang menjalani perawatan di Singapura, agar cepat sembuh dan kembali ke Medan. “Kita doakan beliau cepat sembuh dan kembali lagi ke Medan,” ucapnya.
Fasli mengatakan, saat ini anak usia yang akan masuk ke Sekolah Dasar (SD) mengalami penurunan karena keberhasilan program Keluarga Berencana (KB). Menurutnya, SD-SD di Indonesia kekurangan sekitar 200-300 ribu anak. Sedangkan 13 juta anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tengah diperjuangkan bisa sekolah semua. “Kita berjuang supaya mereka bebas biaya dan mendapatkan pendidikan bermutu melalui wajib belajar 9 tahun,” ujarnya.
Dari program wajib belajar 9 tahun tersebut, lanjutnya, setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 3,6 juta lulusan SMP dan dari jumlah itu baru 60% yang bisa ditampung di pendidikan menengah baik itu SMA, SMK maupun Madrasah Aliyah. Sedangkan pendidikan menengah menghasilkan 2,4 juta lulusan setiap tahunnya. Ironisnya, dari jumlah itu hanya 18% anak usia 18-24 tahun yang tertampung di perguruan tinggi.
Jumlah ini, menurutnya, sangat jauh di bawah negara-negara ASEAN bahkan jika dibandingkan dengan Filipina. “Bayangkan saja dengan tetangga kita seperti Filipina sudah mencapai 30%, Malaysia 37%, Thailand 45%. Jangan bicara Korea, mereka sudah mencapai 91%,” ungkap Fasli.
Untuk mengejar ketertinggalan itu, katanya, pemerintah menargetkan sebanyak 25% anak usia 19-24 tahun bisa tertampung di perguruan tinggi pada 2014 mendatang. Hal itu berarti dalam lima tahun ini kapasitas perguruan tinggi harus ditambah 2,2 juta kursi atau 400 ribu kursi per tahun.
“Artinya kita masih jauh ketinggalan dan kita harus mengejar. Tetapi pertanyaan besarnya bermutukah pendidikan tinggi kita? Karena disamping kita harus mengejar jumlah, kita juga harus hati-hati dengan mutu karena saat ini sangat banyak pengangguran terdidik dan agak mencemaskan kenapa semakin tinggi pendidikannya kok mereka tidak mendapat pekerjaan,” katanya.
Melihat kenyataan itu, Fasli berpesan agar Civitas Akademika US XII berinovasi dalam melaksanakan belajar mengajar. Pasalnya, menurut dia, belajar di zaman ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan kurikulum, akan tetapi harus inisiatif dan inovatif.
“Tak ada gunanya kurikulum yang canggih, ruangan ber-AC, dosen yang profesor kalau mahasiswanya tidak punya rencana apa yang akan dipelajari dan untuk apa dia belajar itu sekarang dalam rangka menyusun masa depan. Apa ilmu yang relevan buat karir kita di masa depan kita pelajari, kalau tidak diajarkan guru kita bisa lihat di tv, banyak program-program talk show dan sumber lainnya yang sebetulnya adalah proses pembelajaran,” jelasnya.
Mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) itu juga meminta para mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada dosen atau buku teks untuk memperoleh ilmu. Sebab, menurutnya, hanya 20 persen saja ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi bisa diterapkan di dunia kerja, dan 80 persen lagi adalah skil.
“Karena itu strategi how to learn, learning how to learn itu menjadi penting, bukan learning how to learn saja. Kita hanya membuat diri kita lulus dengan nilai A, tapi begitu mendapat tantangan yang baru ketinggalan dan tidak terpakai. Namun, bila nilai kita biasa-biasa saja tapi punya skil percayalah anda-anda bisa survive dan bisa bekerja di mana pun,” katanya.
Fasli mengatakan, peluang tenaga kerja Indonesia bekerja di luar negeri saat ini terbuka lebar. Sebab, sudah ada kesepakatan negara-negara ASEAN, ditambah Korea, Cina dan Jepang bisa saling mengirim tenaga kerja tanpa batas. Misalnya, Jepang, setiap tahunnya meminta 1000 perawat dari Indonesia. Bahkan, Indonesia tengah menjajaki kerjasama dengan India.
“Karena itu, pelajari bahasa salah satu negara itu kalau memang ada keinginan bekerja di sana. Kita bisa fasilitasi nanti untuk mendatangkan native speaker dari negara bersangkutan. Tapi harus ada keinginan sendiri dan tidak sekadar bergantung pada kurikulum,” tegasnya.
Tidak hanya mahasiswa yang harus berinovasi, para pimpinan perguruan tinggi dan dosen pun jangan mengungkung para mahasiswa dengan kurikulum. Akan tetapi harus memfasilitasi agar mahasiswa bisa mengeksplorasi ilmu dari mana saja. Misalnya, dengan mengundang tokoh-tokoh baik nasional maupun daerah untuk memberikan ceramah ilmiah. “Karena itu, kalau ada tokoh nasional seperti Pak Cosmas undang ceramah karena satu jam saja bobotnya sama dengan satu SKS. Datangkan lagi tokoh-tokoh nasional atau Sumut yang relevan, ini akan memberikan pengayaan ilmu dan semangat untuk belajar aktif,” katanya.
Fasli juga mendorong agar para dosen US XII dan US XII sendiri memanfaatkan fasilitas beasiswa yang disediakan pemerintah. Menurut dia, setiap tahunnya pemerintah memberikan 8.500 beasiswa untuk program doktor di perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Ada juga 400 beasiswa untuk dosen senior yang ingin belajar di perguruan tinggi di luar negeri tempat ilmunya dapat dikembangkan.
“Tahun ini kita mengirim 2300 dosen negeri dan swasta ke luar negeri, mereka pilih sendiri universitasnya. Malah yang termahal dosen dari sebuah perguruan tinggi teknologi di Bandung. Saya nggak tahu apa sudah ada dosen US XII atau Unita yang memperoleh beasiswa. Melalui Pak Zainuddin (Kopertis Wilayah I Sumut-NAD), tolong agar Yayasan Sisingamangaraja bisa memanfaatkan ini,” katanya.
Selain beasiswa untuk para dosen, katanya, pemerintah juga memberikan beasiswa kepada para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) supaya mereka memiliki pengalaman internasional. “Kita sudah mengirimkan puluhan pengurus BEM ke Australia, Belanda, Cina dan India,” ujarnya.
Meski pendidikan Indonesia secara umum masih jauh tertinggal dari negara lain, namun sejumlah pelajar Indonesia mampu mengukir prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. “Kita baru saja memenangkan 2 medali emas dan 2 perunggu di olimpiade biologi di Korea, baru memenangkan olimpiade fisika internasional yang diikuti 200 peserta dari 80 negara kita dapat 4 medali emas 1 medali perak. Begitu juga anak-anak kita yang mengikuti olimpiade matematika internasional, dari 4 yang kita kirim semuanya dapat medali emas. Kita juga menang juara kontes robot internasional di San Fransisco, baru pulang kontes teknologi pangan di Chicago hadir dari seluruh dunia, yang menarik juara 1, 2, dan 3 semuanya Indonesia,” katanya disambut tepuk tangan meriah hadirin yang hadir.
Oleh karena itu, Fasli optimistis pendidikan Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya di masa depan karena Indonesia memiliki anak-anak yang luar biasa. Tinggal lagi bagaimana pemerintah bisa menemukan bakat, minat dan potensi mereka. “Jadi, berapa pun jumlah mahasiswanya tak masalah, yang penting bisa meningkatkan mutu supaya tidak melahirkan pengangguran-pengangguran terdidik. Dengan doa dan tekad dibarengi kerja keras kita pasti berhasil,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ir Adriani Siahaan MP, selaku Wakil Rektor Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA), menyampaikan ucapan selamat datang dari Ketum Yayasan Kelompok Penyelenggara Pendidikan Sisingamagaraja XII DR GM Panggabean, yang diwakili Badan Pelaksana Harian GM Immanuel Panggabean BBA, sekaligus memberikan selayang pandang tentang tiga perguruan tinggi yang didirikan oleh DR GM Panggabean itu.
Bagi Pak GM, seperti yang disampaikan melalui telepon, kehadiran wakil Mendiknas Prof Dr Fasli Jalal di tengah-tengah Civitas Akademika dan mahasiswa Sisingamangaraja XII merupakan rangkaian doa dan harapannya yang telah dijawab Tuhan. “Merupakan kehormatan bagi kami dan Pak GM menerima kunjungan Bapak Prof Fasli Jalal dan dapat bertatap muka dengan segenap fungsionaris, civitas akademika, mahasiswa dan alumni, serta para kepala sekolah laboratory school Fakultas KIP Unita bersama para murid,” katanya.
Adriani mengungkapkan, walaupun kampus US XII sangat sederhana, namun sejarah pendiriannya tidaklah sesederhana tampilan fisiknya. Pendirian tiga perguruan tinggi yang menyandang nama besar Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII ini mengandung visi yang hidup dan dinamis, serta tak sesederhana untuk sekadar membuka suatu sarana belajar dan mengajar.
Universitas Sisingamangaraja XII Medan yang diresmikan 26 tahun silam oleh Menteri Perumahan Rakyat kala itu, Drs Cosmas Batubara, merupakan cikal bakal berdirinya dua universitas lainnya, yakni Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (Unita) dan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Sisingamangaraja XII. Peresmian US XII ini kemudian ditetapkan DR GM Panggabean pada Juni 1984 bersamaan dengan peringatan hari wafatnya Raja Sisingamangaraja XII. Saat ini, US XII memiliki 10 program studi di 6 Fakultas.
Pendirian US XII ini, kata Adriani, awal dari realisasi visi Pak GM untuk mengabadikan nama dan jasa besar Raja Sisingamangaraja XII sebagai monumen yang hidup bagi rakyat Indonesia umumnya dan rakyat Tapanuli khususnya. Setelah dua tahun sendirian membiayai penyelenggaraan pendidikan di US XII Medan, Pak GM pun membuka Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) di Desa Silangit yang masih kosong melompong di Kabupaten Tapanuli Utara. Pak GM membuka STKIP dengan prinsip “untuk keluar dari kemiskinan kita harus membawa pendidikan ke Tapanuli.”
STKIP pun berkembang menjadi Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli yang kemudian dikenal dengan Unita, dan terus berkembang pesat menjadi perguruan tinggi pioneer di kawasan Tapanuli. Saat ini, Unita memiliki 8 program studi dengan 5 Fakultas, salah satunya FKIP yang saat ini telah melahirkan laboratory school yang terdiri dari SMP, SMK dan SMA Sisingamangaraja XII di dua desa di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.
Seperti FKIP Unita, salah satu fakultas non-gelar teknologi komputer di lingkungan US XII Medan juga membangun produk unggulannya pada 1997 lalu, yakni Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Sisingamangaraja XII, yang sekarang telah memiliki 3 program studi yang terdiri dari jenjang D3 dan S1.
“Kilasan ringkas pendirian Kelompok Pendidikan Sisingamangaraja XII ini menggarisbawahi ketidaksederhanaan cita-cita besar yang ingin kami raih bagi bangsa dan Negara dengan cara memberdayakan kampung halaman,” tutup Adriani.
Sebelum meninggalkan kampus US XII, GM Immanuel Panggabean dan Rooslynda Br Marpaung memasangkan ulos Ragi Hidup ke tubuh Prof Dr Fasli Jalal. Dalam adat Batak, Ulos Ragi Hidup hanya diberikan kepada orang yang terhormat. Kepergian Wakil Mendiknas dan rombongan meninggalkan kampus US XII diiringi lagu “O Tano Batak” yang dinyanyikan Paduan Suara STMIK Sisingamangaraja XII yang dikonduktori oleh Meida. (f)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s