Cintaku di Namosarangan


www.pakkatnews.com

Lamsar memandang lepas ke arah jembatan yang berdiri kokoh tak jauh di depannya. Tatapan hampa seolah sedang menghitung butiran air hujan yang jatuh, sore itu. Senyum kecut mengiasi bibirnya. Iya, dia tersenyum ketika merlihat beberapa anak menjinjing ember kosong d i kepalanya, berlari kecil. Keceriaan terpancar di raut mereka dan tidak memperdulikan  gerimis yang sedang turun.

Angannya terbang ke sepuluh tahun yang lalu, masa-masa yang indah dikala gerimis seperti ini, bersama Riani menyusuri jalan setapak persis di depannya kini.  Dia masih ingat bagaimana dia menutupi kepala Riani dengan baju SMA yang penuh coretan, kala perpisahan kelas III. Dia kuatir kalau Riani akan sakit. Terasa himpitan badan mereka bedua menjadikan suasana hangat tak kala berteduh diemperan rumah di dekat jembatan itu. Warung yang kini dia singgahi. Lamsar masih ingat, kala Riani menggigil kedinginan dan dia cuma bisa membetulkan bajunya yang dipakai sebagai penutup badan mereka berdua dari tiupan angin kencang. Lamsar menggenggam erat tangan Riani.

Bisu dalam hening. Hanya angan yang yang berkelana dalam pikiran masing-masing. Lamsar tahu, bahwa hari itu adalah saat terakhir kebersamaan mereka di SMU RK Pakkat, dan dia juga menyadari kalau besok pagi-pagi benar dia harus pergi, melanjutkan studi ke Jakarta. Awalnya dia begitu senang mendengarkan pengumuman dari Pak Marbun, Guru Biologi, bahwa dirinya salah satu siswa yang diterima di salahsatu Universitas di kota itu. Namun jauh di dalam hatinya, dia tidak ingin berpisah dengan Riani, kekasih hatinya semenjak 2 tahun yang lalu.

“Adalah hal yang menjadi tradisi di SMU RK Pakkat, kalau setiap tahun lulusanya selalu ada yang masuk ke Perguruan Tinggi dengan jalur PMDK, atau lulus tanpa testing. Hal ini lah yang membuat sekolah ini menjadi sangat terkenal hingga keluar daerah. Kualitas sekolah Katolik di pusak Kota Pakkat ini tak pernah diragukan lagi, dari tahun ke tahun selalu menghasilkan siswa yang bias bersaing dengan SMU lain. Setiap Tahun selalu saja ada siswa yang lulus PMDK, di UGM, IPB, USU, UNIMED, dll. Perguruan Katolik ini sudah cukup lama berdiri bahkan sudah 50 tahun lebih. Memiliki puluhan ribu alumni, di segala macam sector, pemerintah, swasta, TNI bidang kesehatan, Guru dll. Sekolah ini berada tepatnya disebelah selatan kota Pakkat, yaitu Pargodungan.”

Hari itu adalah hari terakhir ujian, setelah 2 hari telah mereka lalui, semua siwa kelas Fisika sepakat untuk berwisata ke NamoSarangan. Wisata alam sungai dengan permandian air terjun yang banyak disinggahi oleh muda-mudi dari kampung disekitar pemandian itu.

Namo artinya Satu tempat di aliran sungai yang mendanau/luas, sehingga bias dimanfaatkan sebagai tempat berenang. Sarangan bisa diartikan tempat yang di sembah, secara historis arti Namosarangan ini belum pernah diungkapkan. Namo Sarangan terletak 10 km dari Kota Pakkat kearah Parlilitan. Aliran sungai yang tidak begitu deras dan berair bening dan sejuk. Selain untuk wisata, para penduduk disekitarnya memanfaatkan aliran sungai ini untuk irigasi pematang sawah yang mengalir di kedua sisi sungai ini. Bertani adalah mata pencaharian penduduk. Selain padi, banyak terdapat Pohon Salak dan Karet. Desa-desa di sekitar Kota Pakkat, banyak ditumbuhi oleh pohon Karet, dan sebahagian dari warga desa adalah petani karet selain sawah, tanaman ini masih dibudidaya secara tradisional, sehingga hasil produksi pun tidak bisa menjadi tumpuan hidup keluarga. Dataran Rendah Pakkat sangat subur, mungkin disebabkan oleh banyaknya aliran sungai yang mengitari dataran rendah ini. Sehingga sar tanah dari dedaunan busuk ikut terbawa air sungai dan meresap di tanah sekitar aliran sungai. Pohon karet yang ada pun merupakan warisan turun temurun yang tidak pernah diremajakan, begitu tumbuh tak pernah dikasi pupuk, nasib yang sama dialami oleh tumbuhan Salak. Salak dari kota Pakkat sangat berbeda dengan salak dari daerah lain, buahnya besar-besar, bahkan bisa sebesar kepalan orang dewasa, banyak mengandung air, dan rasanya sepat manis. Tanaman ini juga dibudidaya masyarakat hanya secara tradidional, sehingga Salak Pakkat juga tidak bisa dijadikan sebagai mata encaharian utama sebagai petani Salak. Diharapkan pemerinta jeli melihat peluang ini, sehingga kedepannya, daerah ini mampu mengandalkan sektor pertaniannya dalam emmajukan daerah ini. Demikian halnya dengan warga di daerah aliran sungai Namo Sarangan, yang hanya mengandalkan pertanian Tradisional. Potensi alam seperti Namo Sarangan ini belum dan pahkan tidak akan pernah dilirik menjadi sesuatu yang menghasilkan, walau pada kenyataanya sektor wisata bisa menjadi ujung tombak pendapatan masyarakat eperti di daerah lain. Biasanya pada hari sabtu dan minggu banyak dikunjungi oleh muda-mudi dari desa terdekat maupun dari kota Pakkat. Pada hari biasa, sangat jarang mobil angkutan kesana, jalan ini hanya ramai pada hari senin saja, karena hari senin adalah hari Pekan di Kota Pakkat, semua penduduk yang mendiami desa-desa di sekitaran kota ini pada hari senin akan tumpah ruah di pasar tradisional ini.

“Aku akan segera kembali sehabis wisuda, dan aku akan mencari pekerjaan di Medan, supaya kita bisa bersama lagi”

“Apa nggak ada waktumu untuk pulang sekali setahun?” Riani mencoba bertanya sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.

Lamsar diam seribu bahasa.

“Berapa lama?, apa kita sanggup menjalani kehidupan ini? “  suara Riani lirih melanjutkan pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Lamsar, kali ini suaranya terdengar begertar dan hampir tak terdengar.

Lamsar tahu apa yang ada dipikiran Riani. Memberanikan diri, Lamsar menggenggam jemari Riani lebih hangat, dan membisikan sesuatu ke telinga Riani

“Aku akan kembali untukmu”.

“Masih lama””Cita-cita harus di raih” ujar Lamsar

Riani hanya terdiam, membisu, hingga sebutir mutiara bening mengalir dipipinya seolah tidak yakin kalau mereka akan bertemu kembali, dia tahu bahwa mereka harus berpisah bertahun-tahun. Pun, mereka menyadari bahwa perpisahan mereka hanya untuk sementara dan demi mengejar cita-cita dan masa depan mereka.

Lamsar tak kuasa melihat Riani menangis, ia membelai rambut panjang Riani. “Tak ada yang perlu ditangisi, toh aku akan kembali untukmu, hasian” ujarnya menghibur.

Lamsar sebagai anak tertua dari keluarga yang sederhana dengan orang tua hanya pedagang ikan asin di pasar Pakkat dan ayah seorang guru SD golongan rendah, sadar kalau dia adalah tumpuan orang tuanya. Dia tidak ingin mengecewakan orangtuanya terutama ayahnya yang dari kecil telah mendoktrin dia harus tamat dari universitas. Dia tahu, walau ayahnya hanya tamatan SPG jaman dulu, tapi pemikiran dan cita-cita ayahnya sangat tinggi. Dan dia juga tau, kalau dia sekolah di UI maka seluruhnya dari gaji ayahnya harus dikirimkan ke dia nantinya.

Salah satu kebanggaan orang tua, khususnya orang batak adalah bahwa anaknya bersekolah setingginya, harus lebih tinggi darinya, dan inilah slogan hidup yang dianut orangtua Lamsar, “anakhon hi do hamoraon di au”. Ayahnya tau kalau dia harus menjadi contoh bagi ke empat adik-adiknya yang masih kecil. Untuk itu Lamsar didik dengan keras dan displin yang tinggi, Lamsar adalah masa depan dan kebanggaan keluarga itu.

*   *   *

Hari berganti, seolah kenangan di Namosarangan terpatri dalam hati. Riani takkan lupa saat Lamsar mengecup keningnya dan membisikkan kata-kata cinta. Ciuman pertama dari seorang lelaki. Riani membalas pelukan Lamsar. Ribuan rasa beradu dalam dada. Iya tak ingin melepaskan Lamsar. Sesekali Lamsar membelai alis mata Riani yang lentik memanjang bak semut beriring. “Kamu sangat cantik, hasian” pujinya, tulus.

Riani tak ingin larut dalam kesedihan. Cita harus dicapai, masa depan harus di tapak. Kuliah adalah satu-satunya cara untuk melupakan segalanya. Sebagai anak tunggal, perempuan dari keluarga yang bisa dikatakan berkecukupan dari seorang pemilik toko di jantung kota Pakkat, biaya kuliah tidaklah menjadi halangann utama untuk menlanjutkan kuliah ke kota manapun. Kenapa harus di Medan?. Riani sebagai anak satu satunya terpaksa mengalah pada permintaan AmaniRiani. Tidak boleh jauh, kelak setelah dia selesai kuliah ia bisa meneruskan usaha mereka.

Unimed Medan akhirnya menjadi pilihan hatinya, selain dia juga menyukai pekerjaan seorang guru, dia juga tau kalau di Kota Pakkat masih kekurangan banyak tenaga guru, itu bisa dilihatnya kalau hampir 60 persen, guru-guru yang mengajar di Kota Pakat adalah guru pendatang. Kecintaan Riani akan dunia pendidikan di Pakkatlah menjadi nilai utama, kenapa Lamsar begitu menyukai Riani. Setiap mereka berdiskusi, membicarakan berbagai hal, Riani cukup baik memberikan argumentasi, bahkan kalau dilihat dari nilai di kelas III, rangkinya hanya terpaut 4 tingkat dibawah lamsar yang juara umum.

*   *   *

Hari akan beranjak malam. NaiLamsar segera membereskan pekerjaanya. Sedari tadi dia sibuk memilah-milah ikan asin yang akan dijualnya besok di Balerong Pakkat. Tanganya dengan cekatan bekerja. Matanya awas memilah dan senandung Lagu Huria terdengar. Dia dikagetkan Marsikkat, anaek tetangganya. “Ada telepon, Nantulang, penting” katanya, lalu berlari kembali ke rumahnya.

Tergopoh, NaiLamsar menuju rumah NaiMarsikkat. Siapa gerangan yang menelepon sore-sore begini.

“Omak,….aku pulang ke Pakkat, kebetulan saya lagi di Medan, tugas kantor”, sore itu Lamsar menghubungi NaiLamsar, ibunya– lewat telepon genggam tetangganya.

“Amang, jangan sekarang, nanti saja kamu pulang” terdengar serak suaranya Nai Lamsar.

“Kenapa mak? Saya sudah sangat  rindu dan 7 tahun saya tidak bertemu bapak dan omak”

“Iya amang, tapi jangan sekarang…” terdengar suara serak Nai Lamsar mirip isak tangis.”Ada apa., Mak. Kok malah menangis?”

“Amang……kamu masih menjalin hubungan sama Riani?” malah balik bertanya

“Iya mak, kenapa? Saya pulang, juga untuk membicarakan hubungan kami dengan omak….”

“Amang….Riani akan menikah dua hari lagi dengan paribanya yang dari Batam itu, jadi janganlah kau pulang dulu, mamak sama bapakmu nggak tega melihat kau nanti pulang, pasti sedih hatimu, dan juga nanti akan menjadi pembicaraan orang di Pakkat ini,”

“Apa mak?!..Riani menikah?? nggak mungkin mak, kami baru ngobrol beberapa hari yang lalu.” ujar Lamsar. Kaget.

Ah, semuanya telah berlalu. Tujuh tahun menanti untuk sebuah jawaban. “Berpisah”. Tak ada kata terucap, tapi dia harus melihat pesta pernikahan Riani. Itu tekatnya.

*   *   *

“Amang, jangan pergi ke kota amang” kata Nai lamsar, begitu Lamsar bersiap berangkat sore itu setiba di Pakkat sore itu. Lamsar membisu, hanya mengangguk dan melempar senyum. Ia memeluk NaiLamsar, erat.

“Amang, omak masih sangat rindu, adik-adik mu juga, sebentar lagi bapakmu pulang dari pesta namborumu Nai Humalaput…tunggulah sebentar.

“Iya ma….sebentar saja, saya tahu kok..saya nggak ke kota” jawabnya meyakinkan NaiLamsar.

Lamsar begitu asing dengan kota yang ditinggalinya tujuh tahun ini, jalan-jalan yang rusak tak terawat, sisi kanan-kiriyang penuh tumbuhan liar, seolah kotanya yang dulu indah hanya sebuah perkampungan kumuh. Perlahan dia tanpa disadari dia menuju barat kota pakkat, mengendarai motor pinjaman dari amangborunyai. Sesayup didengarnya suara musik dari panggung, dan dia tau kalau di kota Pakkat akan ada pesta malam ini. Dia juga tau dari anak tetangganya yang masih smp kalau Gurunya mau menikah besok, Ibu Guru Riani. Dia melihat anak-anak tetangganya giat berlatih vocal group untuk pesta besok…ah……hanya raut muka yang pucat kini menghinggapi wajahnya.

*   *   *

Namo sarangan kini sepi seperti hutan belantara, beberapa orang yang berpapasan dengan Lamsar merasa heran, melihat dia berjalan sendirian menuju sungai. Wajahnya yang asing seperti orang kota mengundang tanya setiap orang yang melihatnya, dan mereka tidak mengenalnya. Lamsar mencoba meraih bebatuan terjal disisi sungai yang sedikit deras, dan dia tidak yakin apa yang dia lakukan. Seolah dia mencari sesuatu, yang dia tak yakin masih ada, dia mencoba meraba-raba dicelah bebatuan besar yang terlihat muali remang. Dia juga tak yakin kalau selama puluhan tahun sesuatu yang pernah disimpannya di tebing curam itu masih ada. Sedikit kaget dia menyentuh sesuatu, mirip kotak terbuat dari dari plastik kedapap air.

Tangannya bergetar, mencoba membuka kotak plastik yang sudah dipenuhi lumut, didalamnya secarik kertas yang sedikit terkena air dan sudah berkarat. Perlahan dibukanya lipatan yang sudah mulai usang itu, di keremangan sore nan senja, Lamsar masih bisa membaca isi tulisan yang tertera didalamnya. Setengah bergumann dia membaca “Lamsar dan Riani akan hidup selamanya dan saling mencintai…”. Matanya sedikit berkaca memandang riak air Namo Sarangan, suara penghuni hutan mulai terdengar seolah turut akan kesedihan Lamsar. Nyanyian jangkrik menjadi melodi menyakitkan di hati Lamsar. Kertas usang yang bertanda tangan di genggamannya itu kini telah membuatnya makin pilu. Kembali Dilipatnya kembali kertas itu dan dimasukkan ke tempatnya semula, dalam hati Lamsar berniat menjadikannya sebagai kado pernikahan Riani besok….

*   *   *

“Tulang, tambah air panasnya?, Tulang bukan orang sini yah…Tulang dari jakarta?” tanya seorang gadis kecil bertubi-tubi.

Dengan sedikit senyum yang dipaksakan, dan anggukan kecil tak bertenaga dia memandang gadis remaja disampingnya.

“Adek sekolah dimana?”

“Di SMP Negeri 1 Pakkat, Tulang, yang di Simarsik, kenapa Tulang?”

“Kenal ibu guru Riani…”

“ Iya…dia wali kelas saya,..besok ibunya mau menikah……emang kenapa….?”

“Nggak apa-apa dek, ini bayar kopi sama rokoknya, nanti kembalinya buat adek saja….o yah, bisa nitip kado buat ibu guru Riani?…dia dulu teman sekelas saya waktu SMA, boleh?”

“Boleh Tulang, sini sekalian saya bungkusin saja, besok saya kasih….”. Lamsar memberikan kotak kecil itu. Si Gadis kecil sedikit bingung tentang isi kotak itu, namun kedipan dan anggukan kepala Lamsar membungkamnya. “Jangan dibuka ya dek”

Gadis kecil itu mengangguk.

Hari sudah hampir malam, Lamsar beranjak dan berjalan menyusuri setapak bebatuan, gontai dengan pikran kosong.

H.Gaol

2 thoughts on “Cintaku di Namosarangan

  1. andai masa bisa di undur,,, ngak akan bisa terjadi hal yang seperti ini
    yang sabar y Tulang,,,
    jangan kepikiran x,,,
    tulang pasti dapat yang lebih baik dari ibu Riani nanti

  2. hidup pengharapan atas yang kita angan-angankan,tidak segampang apa yang kita bayangkan,pikiran manusia bisa berubah dalam waktu detik,kalau saya baca cerita “CINTA NASO MARSIRANG” judul itu tidak cocok bagi anak muda saat sekarang,semua tidak akan gampang mempertahankan cinta bertahun-tahun,apalagi makan waktu dalam menyelesaikan kuliah selama lima tahun lebih, di tambah waktu mencari kerja dalam persiapan masa depan,berarti waktu kurang lebih 6-5 tahun,tapi semuanya tidak ada yang tidak mungkin.,itu artinya “BELUM JODOH”,saran saya jangan berkecil hati dan prustrasi,kita hurus buktikan bahwa anda adalah laki-laki, banyak kesempatan yang tuhan berikan kepada setiap umatnya,karena sudah ada tertulis dalam perjanjian yang tuhan berikan “Carilah akan tuhan beri,ketuklah pintu akan tuhan buka” dan ingat si Perempuan yang anda nanti-natikan itu terlebih dahulu mendahului anda dalam mendapatkan pendaping hidupnya tidak perlu ada dicemburui, justru anda memberikan spot tanda kesuksesan bagi si perempuan itu,sebagai tanda cinta kasih.selamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s