Kerugian Petani Kopi di Sumut Capai Rp 150 Miliar/Tahun


Medan (SIB)
Fantastis dan spektakuler…! Kerugian para petani kopi di Sumut dalam tempo beberapa tahun belakangan ini ternyata telah mencapai Rp150 miliar per tahunnya. Hal ini terutama diakibatkan belum ada solusi final yang permanen dalam menanggulangi serangan hama pengerek buah kopi (coffee berry borer-CBB) yang telah merajalela ke hampir semua sentra lahan kopi di daerah ini (Sumut) dan sebagian kecil di daerah lainnya.
Kordinator Aliansi Agribisnis Indonesia (Alagrin) Wilayah Sumut Edi Mulianson Purba dari kalangan petani kopi Simalungun, dan Jamahot Malau dari delegasi pedagang (pengumpul) kopi, menyatakan pihaknya sudah berulang kali menyampaikan keluhan panjang atas kerusakan massal dari beruntun tanaman kopi antar daerah itu kepada sejumlah instansi dan pejabat terkait, namun hingga kini (sudah bertahun-tahun) belum ada solusi yang memulihkan tumbuhan dan produksi kopi tersebut.
“Percaya atau tidak… kerugian para petani kopi di Sumut akibat serangan hama pengerek buah kopi atau CBB dalam beberapa tahun belakangan ini sudah mencapai total Rp150 miliar per tahunnya. Itu masih disebabkan serangan hama, belum akibat lainnya di pasaran. Penurunan produksi dan transaksi kopi ini terjadi di hampir semua atau mayoritas daerah produsen kopi di Sumut seperti Humbang Hasundutan, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun, Taput atau Tobasa dll. Bayangkan kalau di satu desa seperti Bintang Meriah (Simalungun) saja kerugiannya mencapai Rp1 miliar lebih setiap tahunnya. Berapa desa penghasil kopi di satu kecamatan hingga satu kabupaten produsen kopi. Rp150 miliar nilai rugi itu kan bukan angka kecil…,” ujar Edi Mulianson Purba dan Jamahot Malau di Medan, Kamis (30/9) kemarin.
Mereka mengungkapkan hal itu ketika tampil mewakili petani dan pedagang sebagai narasumber utama dalam temu dialog interaktif para pedagang, petani, pengumpul dan eksportir kopi se-Sumut, dengan jajaran pemerintah dan instansi teknis dari beberapa lembaga di aula Bina Graha Pemda Sumut. Acara yang digelar sebagai rapat kerja daerah (Rakerda) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Asal Sumut itu juga menghadirkan beberapa LSM peduli ekonomi rakyat seperti USAID dari Amerika Serikat dan Aliansi Marketing Tani (Amarta) pimpinan William Levina (juga dari AS).
Hadir antara lain Parlindungan Purba SH MM dari DPD RI (anggota DPD lainnya tak tampak), Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumut Ir Masdin E Girsang, Ketua KADIN Dairi Sonang Berutu, Kepala Dinas Perindag Kota Medan Drs Nasrool, sejumlah pejabat Pemrop SU dari Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian & Perdagangan Propinsi Sumut, dan para pengurus asosiasi eksportir kopi Indonesia (AEKI) Sumut. Ruang aula Bina Graha itu tampak membludak karena dihadiri mayoritas pedagang dan pengusaha kopi individual dari seluruh daerah produsen kopi : Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Simalungun, Toba Samosir, Taput, dsb.
Soal merosot produksi kopi sehingga pendapatan atau devisa perkapita masyarakat juga anjlok dari tahun ke tahun, menjadi topic utama yang mengemuka dalam acara dialog interaktif tersebut. Jamahot Manalu dan Mulianson Purba secara bergantian mencontohkan kasus yang terjadi di wilayah kerja atau daerahnya masing-masing. Misalnya di Desa Bintang Meriah dengan volume 140 KK petani kopi di antara 164 KK penduduk setempat, dulunya bisa memperoleh Rp1,8 miliar dari penghasilan hampir 143.000 tumba kopi di atas lahan 46,7 hektar (25 rante) dengan harga minimal Rp12.000 per kilogram. Tapi sekarang, lahan seluas 46,7 hektar itu hanya bisa menghasilkan Rp687.274.560 saja karena produksi kopinya hanya tinggal 57.279 tumba.
“Satu desa ini sebagai sample saja sudah menunjukkan kerugian sebesar Rp1 miliar lebih per tahunnya. Belum lagi yang terjadi di Desa Sinaman Labah, Dolok Pardamean dll di kawasan Simalungun, Humbang, Pakpak Bharat, dsb. Dulunya petani bisa dapat 1.000 tumba lebih per minggunya dengan keuntungan hingga Rp1.000 per kilogram. Sekarang kami petani kopi cuma bisa dapat maksimal 500 tumba dengan keuntungan yang anjlok menjadi Rp500 bahkan terkadang hanya Rp300 per kilogramnya. Kami sudah berupaya melakukan solusi mandiri untuk pencegahan ekspansi hama, tapi kami tak punya dana, termasuk dana untuk sosialisasi atau penyuluhan untuk demplot dan penggunaan pohon pelindung seperti yang dilaksanakan pihak Amarta di dearah lain,” papar Malau prihatin.
Atas kondisi ini, Gubernur Sumut Syamsul Arifin SE melalui kata sambutannya, menegaskan pihak pemerintah Propinsi Sumut memang menyadari kesulitan dan keluhan para petani Sumut, baik soal harga jual kopi yang semakin rendah, sulitnya angkutan produk kopi dari desa karena kondisi infrastruktur yang belum memadai, teknologi pengolahan hasil yang masih monokultur, dsb sehingga produk kopi rakyat daerah ini masih dominan berupa kopi biji (green bean).
“Tapi, Pemda Sumut sudah menetapkan 7 (tujuh) kebijakan khusus untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi para petani kopi di daerah ini. Soalnya, perkebunan rakyat yang termasuk kebun kopi di Sumut ini masih tetap potensial dengan produksi hampir 5 juta ton atas posisi 56,69 persen dari total luas areal perkebunan di Sumut. Luas kebun kopi di Sumut pada 2009 tercatat 80.224 hektar atau 6,13 persen dari luas areal kopi nasional. Areal ini meliputi kebun kopi Arabica 71 persen (57,142 hektar) dan kebun kopi Robusta 29 persen (23.141 hektar),” papar Gubsu.
Ke-7 Kebijakan di sub-sektor perkebunan kopi Sumut itu adalah : (1) Penyebaran benih unggul dengan system kultur jaringan somatic embrio. (2). Perbaikan mutu tanaman kopi. (3). Bantuan fasilitas alat pengolahan hasil. (4). Perluasan areal kebun dengan varietas kopi unggulan. (5). Peningkatan SDM teknis petani dan petugas kebun kopi. (6). Pengembangan kelembagaan petani, dan (7). Perwujudan program Agropolitan Sumut yang juga meliputi perluasan areal tanaman kopi. Tapi, soal apa yang harus dilakukan secara teknis untuk memberantas minimal mencegah perluasan serangan hama pengerek buah kopi (CBB) itu, entah kenapa tak ada yang membahas….di acara itu. (M9/M17/f)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s