Dilaporkan ke KPK, Penyidik Polsek Doloksanggul Rekayasa BAP


DOLOKSANGGUL (EKPOSnews): Kasus percabulan yang dialami BB, 18, warga Desa Marbun Bakkara, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut yang di duga dilakukan Sunggul Tarida Lumbangaol (tersangka) alias Kabut, yang juga warga Desa Marbun Bakkara merasa berita acara pemeriksaan (BAP) di kepolisian diduga direkayasa.

Hasil konfirmasi wartawan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Siborongborong Rabu 15 September 2010 kepada Sunggul Tarida Lumbangaol seputar pencabulan yang dituduh kepadanya mengatakan, pada tanggal 27 Juli 2010 BB (sikorban) membuat pengaduan ke Polsek Doloksanggul dengan tuduhan Sunggul Tarida Lumbangaol menghamilinya. Pada tanggal 29 Juli 2010, Kanit Reskrim Polsek Dolok Sanggul Aiptu J Panjaitan menghubungi Sunggul Tarida Lumbangaol melalui seluler, mengatakan bahwa anda (tersangka) diadukan dan di tuduh mencabuli BB,” ujar Sunggul Tarida Lumbangaol meniru ucapan Kanit Reskrim Aiptu J Panjaitan.

Minggu, 30 juli 2010,  Sunggul Tarida Lumbangaol berangkat ke Jakarta dengan tujuan menemui anaknya yang baru masuk perguruan tinggi. Sesampai di Jakarta pada 1 Agustus 2010, sekitar jam 09:00 WIB Sunggul Tarida Lumbangaol  kembali dihubungi melalui seluler oleh Kanit Reskrim Polsek Doloksanggul mengatakan dirinya benar-benar di tuduh oleh keluarga BB melakukan pencabulan dan menghamili anaknya.

Mendengar kabar tersebut, Sunggul Tarida langsung berangkat pulang dari Jakarta menuju Doloksanggul, dengan tujuan klarifikasi ke Polsek Doloksanggul atas tuduhan sekaligus membuat pengaduan karena tindakan tersebut merupakan pencemaran nama baik.

Belum sampai di Doloksanggul sepulang dari Jakarta, istrinya langsung menghubungi Sunggul Tarida Lumbangaol melalui seluler, mengatakan bahwa anggota polisi melakukan penggeledahan di rumah sampai mengeluarkan tembakan sebanyak dua kali. Setelah itu, Sunggul Tarida Lumbangaol langsung menghubungi Kanit Reskrim melalui pesan singkat (SMS) dengan mengatakan,”Pak polisi, jangan bikin takut istri saya dan anak-anak saya, jangan anggap saya sudah benar-benar bersalah dan saya mohon kembali apabila ada surat pemberitahuan dari pak polisi sebelumnya jelas saya akan hadiri dan saya harap hukum perlu ditegakkan, dan tidak ada kebal sama hukum.”

Pada 4 Agustus 2010 sekitar jam 07:00 WIB, Sunggul Tarida menghubungi Kanit Reskrim Polsek Doloksanggul mengatakan, ”Pak saya sudah berada di depan kantor bapak. Beberapa menit, Kanit Reskrim langsung menghampiri Sunggul Tarida Lumbangaol dan langsung mengajak minum teh di ruangan Kanit Reskrim, usai berbicara dengan Kanit Reskrim, Sunggul Tarida Lumbangaol diarahkan untuk menjumpai Bripka Martimbang (penyidik).

 Setelah bertemu dengan Bripka Martimbang, saya langsung di periksa, saat ini harus dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Sunggul menjawab, “Saya ini datang ke kantor polisi untuk mengadukan keluarga BB dengan tuduhan pencemaran nama baik. Saya ini seorang wartawan. Hak saya untuk mencari berita dan sekaligus membuat pengaduan. Dengan nada membentak dari Bripka Martimbang terhadap Sunggul Tarida Lumbangaol mengatakan siapapun Anda saya tidak perduli, jangankan kamu Kapolda, saya tidak takut, yang jelas Anda benar-benar melakukan pencabulan.”

Sunggul Tarida Lumbangaol meminta kepada Bripka Martimbang (penyidik) agar jangan membentak-bentaknya, tetapi Bripka Martimbang tetap membentak saya dengan kata-kata kotor  mengatakan ”Tai kau, anjing juga kau. Apapun yang kamu katakan itu tidak benar, sebab bukti pencabulan Anda adalah hasi visum dari dokter, bahwa Anda benar-benar melakukan pencabulan pada tanggal 22 Juli 2010.”

 Saya itu seorang jurnalis, saya pulang setiap malam, karena saya selalu bergejolak dan beraktifitas di Dolok Sanggul, saya selalu pulang malam, untuk itu kapan waktu saya melakukan pencabulan, yang jelas ini adalah rekayasa, karena selalu getol mengungkap kasus dugaan korupsi di Pemkab Humbang Hasundutan melalui lembaga yang saya pegang, yakni LSM MPKK2N. Baru-baru ini mengadukan Pemkab Humbaang Hasundutan dalam kasus dugaan korupsi Tahun Anggaran 2008.

Sumihar Lumbangaol Als Amari Juri, 52,  selaku saksi dalam kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh Sunggul tarida Lumbangaol (tersangka) terhadap BB (korban) dalam surat pernyataan pada 04 September 2010 mengatakan,bahwa saya (Sumihar) pernah diperiksa sebagai saksi di kepolisian sektor Dolok Sanggul atas tindak pidana terhadap BB, sebagai mana diatur dalam pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia No 23 Tahun 2002 Subs,Pasal 289 yo Pasal 290 ayat (1) ke (2e) KUHP, bahwa saya  menyatakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi atas nama diri saya tidak sesuai dengan keterangan yang sebenarnya. Pada poin 02, 04 dan 05 BAP tidak benar saya terangkan terjadinya perbuatan cabul dan yang jelas tidak mengetahui terjadinya perbuatan cabul, keterangan sebaliknya adalah keterangan yang diciptakan oleh penyidik sendiri, demikian BAP pada poin 02, 04 dan 05 tidak benar.

Sumihar menjelaskan melalui surat pernyataannya, pada poin 05 tidak benar  menerangkan bahwa Sunggul Tarida Lumbangaol mengaku perbuatanya dan yang jelasnya itu diciptakan penyidik sendiri dan sebagian hasil keterangan saya direkayasa oleh penyidik.

Penyidik Polsek Dolok Sanggul Bripka Martimbang saat di Konfirmasi wartawan Kamis 16 September 2010 seputar dugaan rekayasa BAP saksi Sumihar Lumbangaol mengatakan, bahwa penjelasan dari Sumihar dalam pemeriksaan diambil sebagian dari hasil keterangan kepala desa sesuai penjelasan Sumihar kepada kepala desa. Hasil Visum dan tes DNA sama kuatnya sebagai alat bukti, tetapi kita hanya menggunakan alat bukti hasil Visum dokter saja  sudah cukup untuk mengetahui anak dalam kandungan BB,” ujarnya

“Kita tidak mau tau dalam kandungan itu anak siapa, yang jelas sesuai keterangan saksi bahwa Sunggul Tarida (tersangka) bersama BB (sikorban) dilihat masuk ke dalam rumah kosong, jadi cukup hanya keterangan saksi dan alat bukti visum, dan soal masalah anak siapa dalam kandungan BB itu sudah memakan waktu yang cukup lama, dalam arti kita harus menunggu BB untuk melahirkan bayi dalam kandungannya agar mengetahui bahwa bayi itu anak siapa.”

Kabid Humas Polda Sumatra Utara Kombes Baharudin Djafar saat di hubungi wartawan Sabtu 18 September 2010 mengatakan bukti paling kuat adalah tes DNA dari pada visum. “Bila ada kesalahan dalam proses, tentu ada hak dari korban untuk praperadilan atau di laporkan langsung ke Bidang Propam Polda,” ujarnya.

Sementara itu, dikalangan masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan, dugaan pencabulan yang dilakukan Sunggul Tarida Lumbangaol merupakan rekayasa dan juga sebuah jebakan yang diduga dilakukan salah seorang pejabat teras Pemkab Humbang Hasundutan berinisial MM karena baru-baru ini Sunggul Tarida Lumbangaol selaku Ketua LSM MPKK2N mengadukan Pemkab Humbang Hasundutan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dugaan korupsi Tahun Anggaran 2008 dengan surat No 07/LAP/MPKK2N/HH/IV/2010 dan ditanggapi KPK dengan surat KPK  R-2180/40-43/07/2010  tertanggal 23 Juli 2010 di tanda tangani oleh Deputi Bidang Pengawsan Internal dan Pengaduan Masyarakat Handoyo Sudrajat .

Pengacara Tersangka Tongam Manalu kepada wartawan mengatakan, pihaknya telah menjumpai Polsek Doloksanggul dengan tujuan meminta melakukan pemeriksaan ulang terhadap tersangka didampingi pengacara. Namun Polsek Doloksanggul menolak tersangka di dampingi pengacara. Dan saat ini, Sumihar Lumban Gaol (saksi) juga sudah menyiapkan pengacara guna melaporkan oknum Penyidik Polsek Doloksanggul Bripka Martimbang ke Propam Polda Sumut karena melakukan pemalsuan atau rekayasa dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). (erwin)

2 thoughts on “Dilaporkan ke KPK, Penyidik Polsek Doloksanggul Rekayasa BAP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s