SEJARAH TUAN SUMERHAM DAN RAMBE DENGAN TOGA SIMAMORA


 SEJARAH TUAN SUMERHAM DAN RAMBE

Beresman Rambe

Dimulai dari Toga Sumba, mempunyai anak dua orang yaitu Toga Simamora dan Toga Sihombing. Toga Simamora memperistri putri dari keluarga Saribu Raja, sedangkan Toga Sihombing memperistri putrid dari Siraja Lottung, Toga Simamora, mempunyai anak dari hasil perkawinannya dengan putri dari keluarga Saribu Raja*, bernama Tuan Sumerham, dan seorang putri Si Boru Aek So Hadungdungan mempunyai cacat buta.

*Catatan:

1. selama ini telah terjadi kekeliruan dalam menyebutkan Marga istri Ioga Simamora dengan menyebutkan boru Saribu Raja, hal itu beberapa kali dialami oleh marga Rambe, untuk mencari Hula-Hula Saribu Raja. Sedangkan marga keturunan Sariburaja sekarang ini adalah yang masuk dalam group Borbor.

2. Sejarah Silsilah toga Marbun, mengatakan “……..laos dibaen ma nasida nasapariban i marhombar balok………..” berdasarkan pernyataan ini, kalau kita lihat di Tano Tipang Bakkara, harajaon Toga Simamora berbatasan dengan harajaon Toga Marbun.

3. Dalam sejaranh silsilah Marbun,Toga Marbun merupakan pomparan Toga Nai Pospos kakak adek dengan Tuga Sumba. Istri Toga Marbun dalam sejarah tersebut, adalah boru Pasaribu.

Berdasarkan refrensi tersebut diatas, maka Istri pertama Toga Simamora adalah Boru Pasaribu, pomparan dari Saribu Raja. Sedangkan Toga Sihombing mempunyai istri boru Lottung ( Lottung, delapan bersaudara, tujuh marga, satu perempuan) Dari boru Lottung lahir empat orang anak. yaitu Silaban, Nababan, Hutasoit, Lumbantoruan.

(setelah ini keturunan keduanya menjadi marga untuk keturunan selanjutnya. Sebelumnya adalah nama)

Kemudian Toga Simamora, turun ranjang (Mangabia, manghappi) mengawini istri dari Toga Sihombing, (apakah karena istri toga Simamora meninggal dan suami boru Lottung juga meninggal, tidak jelas dalam sejarahnya) Dari perkawinan yang kedua ini, lahir tiga orang anak yaitu Purba, Manalu, Debataraja. Maka ke-tujuh marga ini (Nababan Silaban, Lumbantoruan, Huta soit, Purba, Manalu Debataraja) merupakan satu ibu, lain bapak.

Kita tinggalkan sejarah tersebut kita focus kepada sejarah selanjutnya tentang Tuan Sumerham. Keturunan Toga Simamora dan Toga Sihombing, bermukim di Tano Tipang Bakkara. Tuan Sumerham bersama tiga orang Saudara tirinya (Purba Manalu Debataraja), tinggal serumah dan keturunan Toga Sihombing berada serumah di tempat lain. Tuan Sumerham memperistri putri dari keluarga marga Siregar juga cucu dari Lottung. Kemudian sejarahnya, semuanya sudah berkeluarga.

Purba, Manalu, Debataraja masing-masing segera dikaruniai anak. Sedangkan Tuan Sumerham dengan istrinya Tiopipian br. Siregar belum mempunyai anak. Hal inilah salah satu yang menganjal hubungan antara keluarga Tuan Sumerham dengan ketiga Saudara tirinya. Berbagai ejekan dan hinaan hampir setiap hari diterima oleh oppung kita, boru Siregar dan tetap tidak “dihailahon tondi na” Hal ini juga diselami oppung kita Tuan Sumerham. Pada suatu saat oppung boru kita, boru Siregar memohon kepada Tuan Sumerham, agar mereka pergi jauh dari ketiga Saudara tirinya nya, karena boru Siregar sudah tidak tahan lagi atas ejekan dan hinaan para istri ketiga Saudara tirinya. Akhirnya pada suatu malam hari, saat Saudara tirinya tertidur, mereka meninggalkan Tano Tipang Bakkara dengan terlebih dahulu mengamankan pusaka Toga Simamora yaitu,

1. Pedang sitastas nambur yang diikat oleh emas, Tetapi Sarung dari Pedang disembunyikan di Bonggar-bonggar.

2. Tombak, tangkainya (stik) di kubur di salah satu tiang rumah.

3. Pustaha (buku lak-lak).

4. Gong (ogung sarabanan) di kubur di pokok nangka silambuyak (pinasa silambuyak).

Setelah Tuan Sumerham mengamankan ke-empat barang pusaka tersebut, maka merekapun pergi menuju suatu tempat yang belum mereka ketahui. Sebagai acuan mereka tinggal di mana?, Oppung Tuan Sumerham mempersiapkan sekepal tanah dari Tano Tipang Bakkar, yang akan di bandingkan dengan tanah pilihan mereka dimana kelak akan berdiam/tinggal. Rupanya Tuan Sumerham, masih mempunyai keyakinan, kelak akan kembali dan mempunyai keturunan. Hal ini ditandai oleh, :”setiap belokan Tuan Sumerham menjepitkan lidi pohon aren (pakko) dengan ujung lidi tersebut mengarah ke arah dari mana mereka datang”

(ceritra tambahan, sesampainya mereka di bukit, untuk beristirahat, karena bukit tersebut tidak cocok dengan tanah yang mereka bawa lalu bergegas untuk melanjutkan perjalanan, ternyata, sanggul /konde oppugn boru kita tertinggal di sana, maka disebut Dolok Sanggul. Setelah menuruni bukit tadi, mereka beristirahat sambil mencocokan tanah yang mereka bawa. Ternyat tidak cocok juga maka mereka kembali bergegas melanjutkan perjalanan. Rupanya tongkat Oppung boru Siregar yang terbuat dari bambu, ketinggalan ditempat mereka istirahat. Maka tempat itu dinamakan Sibuluan)

Tibalah mereka (Tuan Sumerham dan Tiopipian br Siregar) di suatu tempat pebukitan, yang kita kenal sekarang bernama “LOBU TONDANG” Pebukitan tersebut sangat cocok dan pas dengan tanah yang mereka bawa dari Tipang Bakkara. Mereka pun tinggal di sana. Dipelataran Lobu Tondang, terdapat sebuah pohon, yang disebut pohon rambe, yang setiap saat berbuah banyak. Tidak mengenal musim, kembang dan buah matang silih berganti setiap saat. Itu sebabnya buah matang tidak pernah kosong dan lumayan banyak. Rasanya manis asam dan lebih dominant rasa manisnya kalau sudah matang sempurna. Buah inilah yang menjadi makanan mereka setiap hari, ditambah dengan hasil berburu, sebelum hasil tani mereka panen. Sedikit ke lereng pebukitan tersebut, terdapat mata air yang keluar dari Batu sangat segar dan jernih, menjadi sumber air bersih dan cuci mandi bagi Tuan Sumerham dan boru Siregar.

Dalam keadaan tanah tercangkul dii areal mereka tinggal, Oppung boru bingung, mau menanam apa? Sementara sebiji benihpun tidak mereka bawa. Tanpa diketahui dari mana asalnya, tumbuh sebatang padi di ladang yang merka cangkul, lalu meraka rawat dan dibuat menjadi benih, itulah asal mula mereka bertanam padi. Penulis masih sempat memakan nasinya disebut padi sisior berasnya merah, dan sering dikatakan orang di kampung Pakkat, padi si Rambe. Padi tersebut punah akibat bibit padi unggul dari pemerintah.

Ternyata buah rambe ini mungkin mempunyai khasiat**) untuk menyuburkan kedua oppung kita Tuan Sumerham dan boru Siregar. Maka pada suatu saat Oppung kita boru Siregar mengandung anak pertamanya. dan seterusnya hingga mempunyai tiga orang putra dan satu orang putrid bernama Surta Mulia br. Rambe. Anak Pertama diberi nama Rambe Toga Purba, Anak Kedua diberi nama Rambe Raja Nalu, yang terakhir Rambe Anak Raja dan Rambe menjadi icon ketiga anaknya dengan keyakinan, karena Buah Rambe itulah Tuan Sumerham dan boru Siregar dapat berketurunan yang selanjutnya menjadi marga keturunan Tuan Sumerham.

**) beberapa orang parumaen Rambe yang lama tidak mempunyai keturunan, dengan hati yang tulus dan tekat yang murni, pergi ke Lobu Tondang untuk memakan buah Rambe, ternyata menjadi punya anak. Ketulusan dan kemurnian tekad serta tidak ada rasa ego dan serakah, akan membuahkan hasil. Ini dibuktikan adanya parumaen Rambe yang serakah, didorong oleh keinginan yang kuat, sehingga dia berpikir biarlah saya yang berhasil, yang lain tidak perduli, maka dia gagal mempunyai keturunan. Karena pada saat itu ada bersama dia juga parumaen Rambe, hampir tidak kebagian dibuat yang bersikap serakah tersebut. Dan memangis di pohon rambe tersebut. Karena seseorang kasihan, maka sebiji rambe yang dia pegang dengan maksud untuk dimakan, akhirnya diberikan kepada yang menangis. Ternyata dia yang berhasil punya anak.

Pertemuan Tuan Sumerham dengan Raja Tuktung Pardosi

Tempat yang dipilih Tuan Sumerham dan Br Siregar menjadi tano tombangan mereka, ternyata masuk wilayah kekuasaan Raja Tuktung Pardosi. Tanpa sepengetahuan Raja mereka tinggal di sana. Raja pardosi sendiri mengawasi kerajaannya melalui benda-benda yang hanyut pada sungai yang mengalir di wilayahnya. Dia tidak perlu menyisir wilayah untuk mengetahui keadaan di pedalaman. Satu ketika, Raja mengamati wilayahnya dengan emlihat yang hayut di Sungai Sirahar. Alangkah kagetnya Raja setelah melihat, ada potongan kayu dan jerami yang hanyut di sungai tersebut. Dengan melihat yang hanyut itu, Raja berkesimpilan, ada penduduk gelap yang berdsiam di wilayah kekuasaanya tanpa ada laporan. Segera raja dan pengawalnya mencari penduduk gelap tersebut untuk dimintai keterangan dan memberi sanksi. Bertemulah Raja Pardosi dengan Oppung kita Tuan Sumerham. Setelah pertanyaan serta berbagai penjelasan Tuan Sumerham dan keluarga di jatuhi sanksi “harus memberikan upeti setiap mendapatkan hasil dari pekerjaan”. Hasil buruan, harus diberi kepala buruan kepada raja. Hasil pertanian setiap musim panen, lebih dahulu diberikan ke Raja baru bisa di makan oleh keluarga Tuan Sumerham.

Satu hal yang menguntungkan keluarga Tuan Sumerham, Raja tidak memberi kategori tawanan kepada keluarga Tuan Sumerham. Dengan demikian Tuan Sumerham dapat berusaha melepaskan diri dari segala sanksi.

Lepas dari Upeti

Untuk melepaskan diri dari Upeti, (apakah karena tuntutan anaknya atau untuk masa depan keluarganya, tentu Tuan Sumerham yang tau. Dia membuat pekerjaan yang jitu. Sebagaimana biasa dipagi hari Tuan Sumerham pergi melihat jebakan rusa (sambil/jorat). Dia melihat joratnya menjebak Rusa yang sangat besar dan berbulu panjang, lalu Tuan Sumerham meberi balankon/mahkota/bulang-bulang di kepala Rusa dengan warna Putih, Hitam dan Merah dia atur sedemikian seolah bukan buatan manusia. Dan bekas jejaknya dia rapikan kembali, sehingga kelihatannya belum ada yang melihat rusa tersebut dari dekat. Tempat itu sampai sekarang disebut Panambilan (asal kata sambil atau jorat)

Tuan Sumerham dengan segera menemui Raja Tuktung Padosi dan menceritrakan Rusa tersebut, kira-kira beginilah dialognya:

“,,,,,,,,,Yang Mulia Raja yang dihormati, mengingat perjanjian kita saya tidak mau inkar, tetapi saya takut. Saya tidak tau apa gerangan yang akan terjadi kelak dengan tanda-tanda hasil jebakan yang saya dapatkan. Saya tidak berani membunuh sebelum saya tanyakan kepada Sang Raja. Itu sebabnya saya datang,,,,,”

“,,,,,,,Ada apa rupanya Tuan Sumerham?,,,,,,,”

“,,,,,,,Raja yang saya hormati, jebakan saya mendapatkan seekor rusa yang besar, tetapi saya takut mendekatinya, silakan kita lihat yang mulia,,,,,,,,,,”

Berangkat lah Raja dengan panduan Tuan Sumerham ke tempat Jebakan tersebut. Dari kejauhan Tuan Sumerham sudah menunjuk kepada rusa yang bermahkota kain putih, hitam, dan merah. Ternyata benar yang disiasatkan Tuan Sumerham. Sang Raja kaget melihat rusa yang bermahkota tersebut sangat menyeramkan dan berkata; “,,,,,,,,, di ho ma na di ho!?. Mulai saonari, unang be lean ugut ni na ni ulam. Aha pe boa-boa ni ursa I sahat di ho ma I, ndang sahat tu au dohot harajaonhu I,,,,,,,,,,,,,” (artinya, kaulah yang betanggung jawab atas alamat apa yang akan terjadi oleh rusa tersebut. Jangan lah beralamat ke saya dan kerajaan saya. Mulai sekarang tidak usah kau laksanakan sanksi sesuai perjanjian kita.)

Sejak saat itu Tuan Sumerham dan keluarga lepas dari segala upeti kepada Raja. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa dibebani oleh peraturan Raja.

Raja Tuktung Pardosi, mempunyai tiga orang Putri, yang tertua mernama Nanja br Pardosi, kedua Kirri br Pardosi, ketiga Rubi br Pardosi. Sementara Rambe Purba, Rambe Raja Nalu, dan Rambe anak Raja sudah berajnjak dewas, demikian juga ketiga boru Pardosi. Oleh Kuasa maha Pencipta, mereka dipertemukan menjadi Pemuda dan Pemudi yang saling mengikat Janji. Untuk merealisasikan janji mereka, maka Raja Tuktung memberi syarat. Tuan Sumerham dan keluarga harus banyak/ramai menghadiri pernikahan tersebut. Suatu hal yang sulit bagi Tuan Sumerham, mengingat kepindahanya ke Lobu Tondang karena perlakuan Saudara tirinya yang menyakitkan. Tetapi karena sudah merupakan syarat dari Raja, maka Tuan Sumerham memberangkatkan ketiga anaknya untuk mengundang Saudara Tirinya dari Tano Tipang Bakkara.

Sebelum berangkat, Tuan Sumerham memberi nasehat, pesan dan petunjuk yang harus mereka lakukan.

Mereka harus selalu mengarah kepada ujung lidi (tarugi) pohon aren yang di jepitkan pada kayudi setiap belokan.
Sesampainya mereka di sana, mereka akan di tangkap dan dipasung, kemudian pada pagi hari akan disembelih/dibunuh. (demikian lah ceritanya, dahulu, kalau ada orang yang tidak dikenal masuk kampung, ditangkap dan lalu dibunuh)
Pada saat di pasung, mereka harus melantunkan lagu berulang-ulang sambil menangis. Bahasa lagunya

“mago do hape horbo namulak tu barana”,

“mago do hape takke namulak tu sokkirna”,

“mago do hape jolma namulak tu hutana”

artinya suatu hal yang tidak mungkin terjadi, apabila mata kampak kembali ke tangkainya menjadi hilang, kerbau menjadi hilang kalau kemali kek kandang, juga manusia menjadi hilan pabila kembali ke kampong. Tetapi itu akan terjadi pada mereka bertiga kalau tidak menayakan mereka anak siap.

Mereka punya Namboru yang buta bernama Si Buro Aek So Hadungdungan
Tanda tanda, yang dapat mereka berikan yaitu, Ogung sarabanan dikubur di pohon nangka silambuyak dekat rumah, Tangkai tombak dikubur di kayu Pilar pertenghan Rumah Bolon, Sarung dari pedang, disimpan diplafon rumah bolon (bonggar-bonggar).

Tuan Sumerham memberangkatkan anaknya yang tiga dalam kekawatiran, maka berkali-kali dipesankan agar mereka mengikuti petunjuk dan pesan serta menjawab pertanyaan sesuai substansinya dan tidak perlu menjawab apabila tidak ditanya.

Berangkatlah mereka bertiga dengan mengikuti lidi tarugi yang sudah ditunjukkan Tuan Sumerham sebagai awal melangkah. Apabila mereka sudah menemukan lidi selanjutnya mengikuti arah ujung lidi itu, sampai menemukan lagi lidi berikutnya dan mengarah kea rah ujung lidi tersebut. Demikian mereka menelusuri hingga sampai ke tempat tujuan.

Tibalah mereka di Tano Tipang Bakkara. Apa yang diisyaratkan Tuan Sumerham terjadilah kepada mereka ditangkap dan dipasung ditempatkan bawah Rumah. (Dahulu rumah batak bertiang tinggi dan dibawah sebagai kandang ternak seperti sapid an kerbau) Pada malam hari mulailah mereka melantunkan syair yang diajari Tuan Sumerham dengan penuh ketakutan dan menagis, terus menerus (diandunghon), Pada tengah malam, Namborunya mendengar andung mereka semakin di cermati semakin berdiri bulu kuduknya lalu ia menemui Saudara tirinya yang sedang Rapat acara pembunuhan ketiga orang itu di pagi hari. Lalu Namborunya angkat bicara. “,,,,,,,,,,, Hamu akka hula-hulaku, atik boha tu julu uluni na mate maup. Adong dongan tubu mu/Abang mu na mago. Atik boha dung dipangarantoan mamoppar. Asing hubege adung nasida. Dao-daoma jea sukkun hamu jolo nasida,,,,,” Mendengar itu, mereka pun stop rapat dan memperhatikan dan mencermati lantunan adung mereka bertiga. Merka pun turn dan bertanya;

“,,,,,,,,,Siapa kalian sebenarnya?,,,,,,,,”

“,,,,,,Bagaimana kami menjawab? Sedangkan kami dalam keadaan terpasung?,,”

Maka mereka di lepaskan dan diajak naik ke rumah lalu ditanyalah seperti layaknya Tamu terhormat.

“,,,,,,,,,,,kami adalah anak dari Tuan Sumerham,,,,,,,,”

“,,,,,,,,,Apa bukti kalau kalian anaknya,,,,,,,,,,”

“,,,,Ogung Sarabanan di kubur dekat pohon nangka silambuyak,,,,,,”

Lalu merka menggali pada malam itu juga. dan mereka menemukannya.

“,,,,,,Apalagi tanda yang dapat kamu berikan?,,,,,,,,,,”

“,,,,,,Tangkai tombak di kubur di tiang tengah/pilar tengah rumah bolon,,,,,,”

Merka juga langsung menggali, dan menemukannya.

“,,,,,,Apalagi,,,,,,,?”

“,,,,,,,,,,Sarung pedang ada di plapon/bonggar-bonggar rumah bolon,,,,,”

Mereka cari juga ketemu. Dan apa lagi, “,,,,,,,,kalau pustaha dibawa ke perantauan, dan ada sama bapak sekarang,,,,”

Dengan senang hati namborunya mendengar semua peristiwa itu, dalam hatinya dia berdoa, terimakasih mula jadi nabolo hidup dan berketurunan rupanya hula-hula saya itu. Terima kasih mula jadi nabolon, begitulah dalah hatinya. Lalu mereka ditanya kembali.

“,,,,,,,,, Ya… kami sudah percaya, lalu apa maksud kedatangan kalian,,,,,,,?

“,,,,,,,Kami bertiga mau menikahi tiga orang putrid Raja Tuktung di panombagan nami, tetapi raja bersyarat, kita sekeluargan harus ramai. Maka kami datang untuk mengundang,,,,,,,”

“,,,,,,ooOOooo, ,,kami akan datang, “marhoda-hoda bakkuang, marbonceng-bonceng ihurna”,,,,,,,,,,,,,”

Mereka bertiga tidak mengerti arti dari kalimat tersebut, langsung mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pulang.

Mereka kembali mengikuti lidi tarugi untuk pulang ke Lobu Tondang. Merekapun melaporkan hasil kunjungan mereka mengundang Saudaranya yang di Tano Tipang Bakkara, dan memberitahukan kalimat yang diucapkan saudaranya, mendengar itu Raja Tuktung Kaget. Karena arti dari “marhoda-hoda bakkuang……….” Artinya berperang. Bagi Raja Tuktung, adalah suatu tantangan sebab sudah ditentukan hari H. undangan pun sudah berjalan tinggal pelaksanaan. Seorang tidak mungkin membatalkan acara yang sudah dirancang, karena menyangkut harga diri raja. Raja harus bertanggung jawab atas apa yang sudah ditetapkan. Lalu Raja Tuktung mempersiapkan Tentaranya untuk cegah tangkal pada pesta perkawinan ketiga putrinya. Dengan persiapan yang sudah sangat matang, semua siap pada posisi masingmasing sebagai pengamanan detik-detik perkawingan putrinya, Pada waktu “sagang ari” (pukul 10.00) undangan Tuan Sumerham, yaitu keluarga saudara tirinya, sudah menjelang tempat pesta, dengan membunyikan kode perang ***

***menurut yang disejarahkan oleh para orang tua, bahwa, pada saat itu ada usaha sekaligus untuk menghilangkan jejak atau sejarah adanya Tuan Sumerham. Dengan tujuan sejarah Toga simamora hanya ada satu jalur sejarah, yaitu Toga Simamora dan tiga anaknya Purba, Manalu, Debataraja. Maka dalam pemikiran mereka, belum begitu banyak dengan hitung hitungan kekutan, bahwa Tuan Sumerham dan keluarga dapat mereka lenyapkan dengan segera. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan kekuatang tentara kerajaan.

Kode perang tersebut langsung disambut oleh Tentara Kerajaan Pardosi, maka mereka yang datang dari Tipang Bakkara (Saudara tiri red.) dengan tujuan menghilangkan jejak Tuan Sumerham, tidak kesampaian. Maka mereka dipukul mundur tunggang langgang oleh Tentara Kerajaan, kembali ke Tipang Bakkara dengan kegagalan, yang mengakibatkan adanya marga Rambe sampai sekarang.

Pesta perkawinan berjalan selanjutnya, tanpa ada gangguan, maka pasangan, pasangan pengantin adalah sebagai berikut: Rambe Toga Purba istrinya Rumbi br. Pardosi; Rambe Raja Nalu dengan istrinya Kirri br. Pardosi; Rambe Anak Raja dengan istrinya Nanja br. Pardosi. Demikan lah mereka hidup berumah Tangga dengan damai, namun pikiran Tuan Sumerham, masih bekerja untuk mendirikan parhutaan bagi ketiga anaknya. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan adalah ketiga parumaennya sebagai putri Raja yang berkuasa di daerahnya, maka Tuan Sumerham mengumpulkan ketiga anaknya bersama istri masing-masing. Tuan Sumerham memaparkan nuansa pemikirannya untuk masa depan mereka, dengan keberadaan mereka numpang hidup di kerajaan Pardosi, posisi mereka sangat lemah. Peluang untuk kembali ke Tipang Bakkara memang masih ada namun wilayah tersebut dapat dikatakan relative sempit. Sedangkan wilayah kerajaan Pardosi, masih sangat luas.

,,,,,,,,,, “Lalu apa yang dapat kami perbuat ?,,,,,,,,” jawab ktiga anakdan parumaennya.

,,,,,,,,,, “Masih ada peluang kalian mempunyai tanah yang luas, sebagai kerajaan kita yang bakal kerajaan kalian bertiga. Asalkan kalian mau menuruti apa yang saya suruh,,,,,,,”

,,,,,,,,, “Kami mau melaksanakannya demi terkabulnya cita-cita ayah,,,,,” jawab mereka bertiga sepakat.

,,,,,,,,, “Pergilah kalian “marebat” ke kampung Raja, yaitu mertua kalian, setelah satu hari menginap, biarkanlah dulu parumaenku tinggal disana, kalian bertiga pulanglah dulu untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Bagi ketiga parumaenku tinggallah dulu disana untuk beberapa lama, sampai ada pertanyaan dari Raja (besan Tuan Sumerham) dan pasti akan ditanya permintaan kalian agar kembali ke keluarga masing-masing. Nah kalian Parumaenkulah yang mengatur, seberapa luas wilayah kerajaan kita yang kalian inginkan,,,,,,,,”

Maka mereka bertiga serta istri masing-masing pergi ke rumah Raja Tuktung layaknya “marebat” sesuai adat kebiasaan, pengantin harus melaksanakan mebat, setelah beberapa lama menikah**). Sesuai dengan yang diskenariokan Tuan Sumerham, maka besok harinya ketiga anaknya pulang dengan alasan kepada Raja untuk melanjutkan kegiatan sehari-hari demi kehidupan mereka sebagai keluarga.

**) “marebat” dimaksud adalah “paulak une” dalam acara perkawinan ulaon sadari,. adalah acara adat lanjutan setelah beberapa hari menikah. Acara ini erat kaitannya dengan hukum perkawinan adat batak. Acara ini menjadi kunci sebuah rumah tangga lanjut atau cukup sampai paulak une tersebut. Bagi pihak parboru, acara ini paling sangat dibenci, tapi harus dilaksanakan. Pembahasan tuntas pada hukumadat perkawinan

Bagi Raja Tuktung, keadaan seperti itu, merupakan hal yang biasa pada perlakuan adat sehari-hari. Tetapi hari semakin bertambah hari, Raja mulai gelisah, karena ketiga mantunya, belum juga datang untuk menjemput istri masing-masing, sementara ketiga putrinya pun tidak bergeming untuk berencana pulang kembali ke suami masing-masing. Tentu sebagai Raja yang dihormati, adalah aib baginya, ketiga putrinya yang sudah menikah, berlama-lama di rumahnya atau kampungnya. Hari bertambah hari, tidak ada tanda-tanda dari ketiga putrinya ingin pulang ke Suami masing-masing. Tentu hal semacam ini membuat raja semakin pusing, maka dari pada berlama-lama, akhirnya Raja mengumpulkan mereka bertiga, dan bertanya kenapa mereka belum berencana pulang ke suami masing-masing? Mereka bertiga diam tidak menjawab. ,,,,,”apakah kalian mempunyai kesalahan terhadap mertua atau suami kalian,,,,,,,,?” Merka tetap diam tidak menjawab, sampai raja marah, mereka menyangkal tuduhan/kekhawatiran Raja. Akhirnya raja membujuk ketiga putrinya.

,,,,,,”Apakah ada yang ingin kalian minta dari saya,,,,,,?

Mereka bertiga tersenyum, namun belum menjawab. Melihat mimik itu raja semakin yakin, kalau mereka punya permintaan,

,,,,,,,”baiklah, saya akan memberikan apa yang kalian minta, asalkan kalian kembali ke suami masing-masing untuk mengurus rumah tangga kalian,,,,,,,,”

Dengan serempak mereka menjawab.

,,,,,,,”Apakah janji bapak itu betul,,,,,,?

,,,,,,,,” iya,,,, akan saya penuhi, asal kalian kembali mengurus menantu saya dan keluarga kalian,,,,,”

Lalu mereka bertiga mengajak raja ke atas bukit*) dekat rumah raja. Setelah sampai di atas, mereka mengajukan permintaan dengan berdiri seolah membuat lengkungan menghadap kampung raja.

*) Bukit tersebut dikenal di Pakkat bernama Gotting, dan merupakan perbatasan Tano Rambe dengan Tukka harajaon Pardosi.

,,,,,Bapak,,,,! Inilah permintaan kami. Seluas mata memandang ke belakang kami, berilah itu sebagai kerajaan kami, agar kami bertiga mempunyai kerajaan.,,,,,”

Sebagai seorang raja, janji atau omongannya merupakan peraturan atau undang-undang. Maka ditetapkanlah tempat berdiri mereka sebagai perbatasan antara Negeri Rambe (kerajaan marga Rambe yang luasnya satu kecamatan minus kerajaan pardosi, Kerajaan Simanullang) Maka batas kerajaan Negeri Rambe, adalah Gotting kearah Tukka Barus, Parajaran (dulu sekarang lepas krena kelemahan rambe), Kearah Parlilitan sebelum Aek Riman, lalu dengan Marbun aliran sungai Sisira sampai ke Sibongkare, lalu kesijarango, Sungai Sisira masuk kerajaan Rambe, kearah Timur laut Sijarango berbatasan dengan Simatabo, kearah Timur menyusuri lembah pegunungan Sapparungan, Sipahutu-hutu (merupakan hulu dari Sungai sirahar yang mengalir dari Sijarango hingga ke sigorbus), Rabba Pattil kearah Gunung Pinapan, Simbo kearah Banuarea, Batu papan, gn Tua Jagapayung Sirandorung kemudian menelusuri pegunungan Sampuran Sipulak dan kembali ke Gotting. Jadi jelas merupakan wilayah yang sangat luas menjadi satu kecamatan. Setelah ketiga anak tuan Sumerham mempunyai anak, dan Tuan Sumerham menyadari dirinya sudah tua, perlu untuk menempatkan anak-anaknya sebagai strategi penguasaan Teritorial ditempatkan lah Rambe Toga Purba istrinya Rubi br. Pardosi ditempatkan di Tambok Rawang Jakhadatuon/Batugaja sebelah selatan Lobu Tondang dengan daerah penyebaran kearah selatan, Tenggara, dan Barat daya. Rambe Raja Nalu dengan istrinya Kirri br. Pardosi ditempatkan di Rura Parira Sibambanon sebelah Timur Lobu Tondang, dengan daerah penyebaran keturunannya Timur, Timur Laut dan Tenggara,. Rambe Anak Raja dengan istrinya Nanja br. Pardosi ditempatkan di Tolping sebelah Barat Lobu Tondang dengan daerah penyebaran keturunan daerah Barat Daya dan Barat Laut. Daerah Utara yang dibentang oleh sungai Sisira menjadi daerah panombangan sekaligus menjadi batas bagian Utara Negeri Rambe.

Hingga generasi ke-7 sejalan dengan kepergian keturunan Rambe Raja Nalu ke Sipionot yang menjadi Baginda So Juangon yang menyusul bapaknya memakai marga Rambe dan hingga di Sipiongot dan sekitarnya tetap memakai Marga Rambe. Generasi ke 8 anak dari yang menjadi Baginda So Juangon, juga memakai marga Rambe sampai generasi ke 9 sejalan dengan datangnya Kappung Meman Debataraja ke Sijarango, Rambe masih eksis di Negeri Rambe, Pakkat

Menurut penelusuran saya, bahwa keturunan Tuan Sumerham sebelum masuknya rintisan jalan oleh Belanda ke seluruh daerah di sumatera utara, masih memakai marga Rambe. Ini dibuktikan oleh

1. Nisan marga Manik yang terdapat di Sijarango tertulis “Op. Ganda Marimbulu Manik/br. Rambe”

2. Surat Keterangan dari pemerintah Belanda tahun 18 sekian tertulis “Aman Sampe Rambe marhoendoelan di Pakkat Barus Hulu”. Ternyata keturunan Aman Sampe Rambe sekarang ini memakai marga Purba

3. Marga Rambe sendiri yang tinggal di daerah selatan Sumatera Utara (UtamanyaSipiongot dan Gunungtua sekitarnya) adalah keturunan Tuan Sumerham dari Pakkat pada generasi 5 atau ke 7 pergi merantau ke sana dan bermarga Rambe, hingga sekarang memakai marga Rambe.

Sejak Kapan marga Rambe menjadi Purba Manalu Debataraja di Pakkat?

(baca: Study Kasus di Sijarango, dan siapa Tuan Sumerham dan Baginda So Juangon?)

SIAPA TUAN SUMERHAM DAN BAGINDA SO JUANGON?

Oleh

(Beresman Rambe)

Dimulai dari Toga Sumba, mempunyai anak dua orang yaitu Toga Simamora dan Toga Sihombing.

Toga Simamora memperistri putrid dari kel luarga Saribu Raja, sedangkan Toga Sihombing memperistri putrid dari Siraja Lottung.

Toga Simamora, mempunyai anak dari hasil perkawinannya dengan putrid dari keluarga Saribu Raja, bernama Tuan Sumerham, dan seorang putrid yang buta

Sedangkan Toga Sihombing mempunyai empat orang anak dari hasil perkawinannya dengan putrid keluarga Lottung

(setelah ini keturunan keduanya menjadi marga untuk keturunan selanjutnya. Sebelumnya adalah nama)

yaitu Silaban, Nababan, Hutasoit, Lumbantoruan. Kemudian oleh Toga Simamora, mengawini kembali istri dari Toga Sihombing, lahir tiga orang anak yaitu Purba, Manalu, Debataraja. Maka ke-tujuh marga ini merupakan satu ibu, lain bapak. Kita tinggalkan sejarah tersebut kita focus kepada sejarah selanjutnya tentang Tuan Sumerham. Keturunan Toha Simamora dan Toga Sihombing, bermukim di Tano Tipang Bakkara. Tuan Sumerham bersama tiga orang keturunan Toga Simamora kemudian, tinggal serumah dan keturunan Toga Sihombing berada serumah di tempat lain. Tuan Sumerham memperistri putrid dari keluarga marga Siregar juga cucu dari Lottung. Kemudian sejarahnya, semuanya sudah berkeluarga.

Purba, Manalu, Debataraja masing-masing segera dikaruniai anak. Sedangkan Tuan Sumerham dengan istrinya boru Siregar belum mempunyai anak. Hal inilah salah satu yang menganjal hubungan antara keluarga Tuan Sumerham dengan ketiga Saudara tirinya. Berbagai ejekan dan hinaan hamper setiap hari diterima oleh opong boru kita boru Siregar dan tetap tidak “dihailahon tondina”

Hal ini juga diselami oppung kita Tuan Sumerham. Pada suatu saat oppugn boru kita boru Siregar memohon kepada Tuan Sumerham, agar mereka pergi jauh dari ketiga Saudaranya, karena boru Siregar sudah tidak tahan lagi atas ejekan dan hinaanistri ketiga Saudara tirinya. Akhirnya di suatu malam hari saat Saudara tirinya tertidur, mereka meninggalkan kampungnya, Tano Tipang Bakkara dengan terlebih dahulu mengamankan pusaka Toga Simamora yaitu,

1. Pedang sitastas nambur yang diikat oleh emas, Tetapi Sarung dari Pedang

juga dikat dengan emas, disembunyikan di Bonggar-bonggar

2. Tombak yang bermata emas, tangkainya (stik) di kubur di salah satu tiang

rumah,

3. Pustaha (buku lak-lak)

4. Gong (ogung sarabanan) di kubur di pokok nangka silambuyak (pinasa

silambuyak)

Setelah Tuan Sumerham mengamankan ke-empat barang pusaka tersebut, maka merekapun pergi menuju suatu tempat yang belum mereka ketahui. Sebagai acuan mereka tinggal di mana, sudah mempersiapkan sekepal tanah dari Tano Tipang Bakkar, yang akan di bandingkan dengan tanah pilihan mereka dimana kelak akan berdiam/tinggal.

Tibalah mereka (Tuan Sumerham dan boru Siregar) di suatu tempat pebukitan, yang kita kenal sekarang bernama “LOBU TONDANG” dipelataran lobu tondang, terdapat sebuah pohon, yang disebut pohon buah rambe, yang setiap saat berbuah dan setiap saat banyak buahnya yang sudah matang. Rasanya manis asam dan lebih terasa manisnya kalau sudah sempurna matangnya. Buah inilah yang menjadi makanan mereka sementara sebelum hasil tani mereka panen. Serta dilereng pebukitan tersebut, terdapat mata air yang sangat segar dan jernih, menjadi sumber air bersih dan cuci mandi bagi Tuan Sumerham dan boru Siregar.

Ternyata buah rambe ini mempunyai khasiat untuk menyuburkan kedua oppung kita Tuan Sumerham dan boru Siregar. Maka pada suatu saat Oppung kita boru Siregar mengandung anak pertamanya. dan seterusnya hingga mempunyai tiga orang putra dan satu orang putri. Anak Pertama diberi nama Rambe Toga Purba, Anak Kedua diberi nama Rambe Raja Nalu, yang terakhir Rambe Anak Raja dan Rambe menjadi icon ketiga anaknya yang selanjutnya menjadi marga keturunan Tuan Sumerham, dan sejak saat itu Rambe semakin banyak, dan tidak mungkin tinggal di suatu tempat yaitu Lobu Tondang.

(Sejarah pertemuan Tuan Sumerham dengan Raja Tuktung Pardosi sejarah tersendiri dalam Tulisan ini)

Maka Rambe Toga Purba istrinya Rumbi br. Pardosi ditempatkan di Tambok Rawang Jakhadatuon/Batugaja sebelah selatan Lobu Tondang dengan daerah penyebaran kearah selatan, Tenggara, dan Barat daya. Rambe Raja Nalu dengan istrinya Kirri br. Pardosi ditempatkan di Rura Parira Sibambanon sebelah Timur Lobu Tondang, dengan daerah penyebaran keturunannya Timur, Timur Laut dan Tenggara. Rambe Anak Raja dengan istrinya Nanja br. Pardosi ditempatkan di Tolping sebelah Barat Lobu Tondang dengan daerah penyebaran keturunan daerah Barat Daya dan Barat Laut. Daerah Utara yang dibentang oleh sungai Sisira menjadi daerah panombangan sekaligus menjadi batas bagian Utara Negeri Rambe. Hingga generasi ke-7 pemakaian marga Rambe masih eksis di Negeri Rambe, Pakkat.

Menurut penelusuran saya, bahwa keturunan Tuan Sumerham sebelum masuknya rintisan jalan oleh Belanda ke seluruh daerah di sumatera utara, adalah memakai marga Rambe. Ini dibuktikan oleh

1. Nisan marga manik yang terdapat di Sijarango tertulis “Op. Ganda Marimbulu

Manik/br. Rambe”

2. Surat Keterangan dari pemerintah Belanda tertulis “Aman Sampe Rambe

marhoendoelan di Pakkat Barus Hulu”. Ternyata keturunan Sampe Rambe sekarang

ini memakai marga Purba

3. Marga Rambe sendiri yang tinggal di daerah selatan Sumatera Utara (Utamanya

Sipiongot dan Gunungtua sekitarnya) Kahanggi yang bermukim di sana, membawa

marga rambe dari Pakkat, tetap memakai Rambe sampai sekarang

Setelah anak-anaknya dewasa, ketiganya mengambil istri putrinya raja Pardosi, borunya Raja Tuktung

(cerita ini saya perpendek, mengambil pokok-pokok

yang di bicarakan difacebook mudah-mudahan satu saat saya bisa menulis

sejarahnya di blog

lobu tondang sedetail mungkin)

Kalau yang bernama asli Baginda So Juangon adalah generasi ke 5 dari Tuan Sumerham adalah dari si Rambe Anak Raja. dua bersaudara, adeknya bernama Guru So Juangon tinggal di Pakkat Hauagong. (ini saya dapat kemudian setelah orang sudah memutuskan kalau Baginda So Juangon dari Si Rambe Raja Nalu) Baginda So Juangon dari si Anak Raja, menjadi dianggap mengacaukan tarombo/stambuk

I. Tarombo/Stambuk dari Pakkat.

Gnr. 1. Tuan Sumerham/br. Siregar, mempunyai anak tiga dan satu putri yaitu:

Gnr. 2. 1. Rambe Toga Purba/Rumbi br. Pardosi (Tambok Rawang)

2. Rambe Raja Nalu/Kirri br. Pardosi (Rura Parira)

3. Rambe Anak Raja/Nanja br. Pardosi (Tolping) Putri Tuan Sumerham yang bernama Surta Mulia br. Rambe, Menukah dengan marga Pasaribu, dan diberi mereka Pahuseang di Sirandorung, Negeri Rambe Pakkat.

Untuk mengetahui Sundutnya Tuan Sumerham menurut versi Rambe Anak Raja, maka selanjutnya kita ambil dari Rambe Anak Raja

Gnr.2. Rambe Anak Raja/Nanja br. Pardosi mempunyai anak toga orang

Gnr.3. 1. Raja Perak Rambe Anak Raja (Lobu Hariburan)

2. Raja Mole-ole Rambe Anak Raja (Sijarango-Siambaton)

3. Tumpak Martahi Rambe Anak Raja (Huta Tonga)

Raja Perak Rambe Anak Raja Mempunyai anak dua orang

Gnr.4. 1. Tunggul Di Juji Rambe Anak Raja (merantau ke Aceh) hingga sekarang

belum ada informasi tentang keturunannya.

2. Raja Na Gurguron Rambe Anak Raja

Raja Na Gurguron Rambe Anak Raja mempunyai anak dua orang yaitu;

Gnr.5. 1. Baginda So Juangon Rambe Anak Raja dalam stambuk/tarombo yang

saya dapatkan terdapat catatan, bahwa Baginda So Juangon pergi merantau

kearah Sidempuan

2. Guru So Juangon Rambe Anak Raja

Dari Guru So Juangon, hingga generasi ke Sembilan, masing-masing hanya mempunyai satu orang keturunan.

Secara berurutan, Gnr. Ke-6 Oppu Sangga Mulana. Gnr. Ke-7, Amani Sangga Mulana, Gnr. Ke-8, Sangga Mulana, Gnr. Ke-9, Oppu Sigurdangon, mempunyai dua orang anak yaitu Gnr. Ke-10 1. Op. Sailan dan 2. Aman .

Catatan Penulis : ini merupakan penuangan dari yang sudah ditemukan semata. Kemungkinan akan berkembang sesuai dengan yang ditemukan kemudian. Sehingga bukan kebenaran mutlak, tetapi sudah dapat dijadikan acuan terhadap perkembangan kemudian.

Pendapat dan informasi ini, diperkuat oleh statmen seorang natua-tua kita dari Siranggason, Pakkat, pada bulan Desember 2009 yang lalu, menyatakan; “Opponta Baginda So Juangon, ima apala hahani Oppunta Guru So Juangon, na lao mangaranto, pinompar ni oppunta Si Anak Raja”. Nama ini juga persis sama dengan yang ada di daerah perantauan Selatan Sumut. Yang menjadi pertanyaan, Kalau Baginda So Juangon dari omppung kita Rambe Raja Nalu, kenapa merobah nama, sebab pada saat di Laksa, Pakkat kalau tidak salah bernama Satia Raja Rambe Raja Nalu. Kenapa berobah menjadi Baginda So Juangon?

II. Tarombo/Stambuk Baginda So Juangon (dari Selatan)

Gnr. 1. Tuan Sumerham/br. Siregar, punya anak tiga orang (tidak disebut dengan seorang Putri), Yaitu;

Gnr. 2. 1. Rambe Raja Purba

2. Rambe Raja Nalu

3. Rambe Anak Raja

Diambil dari Rambe Anak Raja, mempunyai tiga orang anak, yaitu;

Gnr. 3. 1. Raja Perak Rambe

2. Raja Mole-ole Rambe

3. Tumpak Martahi Rambe

Diambil dari Raja Perak Rambe, mempunyai dua orang anak yaitu;

Gnr. 4. 1. Tunggul Di Juji Rambe

2. Raja Na Gurguron Rambe

Diambil dari Raja Na Gurguron, mempunyai dua orang anak yaitu;

Gnr. 5. 1. Baginda Raja So Juangon Rambe (di Aek Pisang)

2. Guru So Juangon Rambe (di Pakkat)

Diambil dari Baginda Raja So Juangon Rambe, mempunyai emapat orang anak yaitu;

Gnr. 6. 1. Namora Dibatu Nabolon Rambe (haruaran ni raja-raja Tano Holbung)

2. Namora Tabo Rambe (haruaran ni raja-raja Rambe Huta Somat) Sipiongot

3. Namora di Gurguron Rambe (haruaran ni raja-raja Rambe Simundol)

4. Guru Muloha Rambe (haruaran ni raja-raja Rambe Aek Suhat)

Yang memberikan Tarombo ini mengambil generasi/sundut berikutnya dari

Namora Dibatu Nabolon, mempunyai satu orang anak yaitu;

Gnr. 7. 1. Jalaga Rambe mempunyai empat orang anak yaitu;

Gnr. 8. 1. Japanggulmaan Rambe.

2. Badu Soman Rambe.

3. Simundol Rambe.

4. Jaonan Rambe.

Dari generasi/sundut ke-8 ini, diambil dari Japanggulmaan dan Jaonan

Rambe. Japanggulmaan mempunyai 5 orang anak, yaitu;

Gnr. 9. 1. Jatanduk Rambe.

2. Jahulembang Rambe (Aek Tangga).

3. Akal Rambe.

4. Jalius Rambe.

5. Alias Rambe.

Anak dari Jaonan Rambe ada 5 orang yaitu;

Gnr. 9. 1. Jahobuk Rambe.

2. Mulia Rambe.

3. Jarupat Rambe.

4. Japanggulapak Rambe.

5. Adil Rambe.

Untuk generasi/sundut ke-10, diambil dari generasinya Japanggulmaan

Yaitu; Jatanduk Rambe, mempunyai dua orang anak yaitu;

Gnr. 10.1. Rokkaya Inganan Rambe.

2. Jatumbasan Rambe. (sungai Pining)

Jahulembang Rambe mempunyai 5 orang anak yaitu;

Gnr. 10.1. Jamanahan Rambe (Sungai Pining).

2. Cair Muda Rambe (Sungai Pining).

3. Jamarmasuk Rambe (Sipotang Ari).

4. Marasia Rambe (Bondar Sito).

5. Jasayas Rambe (Bonandolok).

Anak dari Jalius Rambe (sungai Pining), dua orang yaitu;

Gnr. 10.1. Markus Rambe (sungai Pining)

2. Japarnantian Rambe (Sungai Mangambat)

Anak dari Alias Rambe satu orang yaitu;

Gnr. 10.1. Raja Ona Rambe. Dst.

Catatan Penulis: 1. Tarombo ini dituangkan dari tarombo yang saya simpan. Semata-mata bukan yang paling benar, tetapi pling tidak menjadi acuan, atau bandingan terahadap temuan kemudian. Kalau ada perbedaan dengan tarombo yang menjelaskan tentang Baginda So Juangon, tentu ini menjadi bahan pertimbangan dan pemikiran bagi Marga Rambe bukan untuk mengacaukan garis keturunan kahanggi.

2. Satu nama oppung kita yang tidak dilanjutkan garis keturunannya, bukan berarti tidakpunya keturunan. Hanya saja, dalam dokumen yang saya simpan, nama dalam stambuk tersebut tidak dilanjutkan. Tetapi secara garis besar tarombu sudah ada di sana dan tinggal menyambung kepada nama yang sama dalam tarombo yang kita pegang masing-masing.

Kalau nama itu Glr. Baginda So Juangon adalah hal yang lumrah mengambil nama

oppungnya sama-sama Rambe. Sebab Satia Raja adala Generasi ke-7 dari

Tuan Sumerham. Informasi lain yang perlu dipertimbangkan bahwa saya

mendapatkan tarombo dari selatan di Jakarta, juga sama dengan dokumen

yang saya simpan. Dan tarombo itu menurut yang punya sudah turun

temeurun sampai ke dia.

Lalu yang menjadi patokan para orang tua yang disosialisasikan ke generasi sekarang adalah bahwa Baginda So Juangon berasal dari Si Rambe Raja Nalu. Tetapi informasi dari generasi muda Rambe melalui jejaring social, ada yang mengatakan generasi ke-5 dari Tuan Sumerham, dan ada yang mengatakan generasi ke-7. Tentu informasi ini dari para orang tua Rambe juga. Mungkin juga orang tua mereka. Saya sendiri sudah menelusurianya, dari catatan yang ada atau pernyataan yang bersangkutan, diakui sama-sama Baginda So Juangon walau dalam pengetahuan mereka berbeda generasi. Kalau dikatakan Baginda So Juangon generasi ke-5, maka beliau dari Rambe Anak Raja dan yang mengatakan itu adalah Rambe keturunan Anak Raja. Kalau dikatakan Baginda So Juangon itu adalah generasi ke-7 maka yang mengatakan itu adalah Rambe keturunan dari Raja Nalu. Dan hasil penelusuran tersebut diiakan oleh salah seorang mereka dari satu oppung, bahwa Keturunan dari Rambe Raja Nalu yang “menyusul” ke Sipiongot, adalah bernama Satia Raja Rambe Raja Nalu yang meninggalkan seorang istri boru Pane dan seorang putra di Laksa, Pakkat. dan Satia Raja sendiri generasi ke 7 dari Tuan Sumerham.

(Catatan : Kata menyusul di sini adalah adanya saudara yang sudah lebih dahulu tinggal di sana lalu kemudian di ikuti yang lain kemudian dalam satu marga)

yang menjadi pertanyaan kenapa menjadi Baginda So Juangon? atau mungkin glr. Baginda So Juangon ? Kenapa tidak tetap memakai nama Satia Raja. (lanjutan cerita ini akan menyangkut Rambey yang mengaku Lubis nanti akan disambung dalam tulisan tersendiri sesuai versi Rambe).

Keterangan: 0 – 9 adalah menyatakan nomor generasi

gnr = generasi

 

 

2 thoughts on “SEJARAH TUAN SUMERHAM DAN RAMBE DENGAN TOGA SIMAMORA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s